Pilih Koster, Megawati Soekarnoputri: Nggak Memper Bu, Nggak Keren, Tapi…

    


foto: Youtube

KORANJURI.COM – Sebelum membacakan pasangan cagub-cawagub Bali 2018-2023, Megawati Soekarnoputri menyatakan tidak mudah mencari 171 pemimpin untuk Pilkada di seluruh Indonesia.

“Mencari 171 pemimpin yang akan diajukan PDIP ternyata susah juga. Sebagai Ketua Umum, saya harus memilihnya secara hati-hati karena harus mendengarkan usulan, saran, melihat orangnya dan hasil fit and proper-nya,” ujar Megawati Soekarnoputri saat menggelar Rakor pengumuman Cagub-Cawagub Bali di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu, 11 November 2017.

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menambahkan, dirinya banyak menerima pengajuan bakal calon kepada daerah namun tetap harus melalui seleksi yang cukup ketat. Survai menurut Ketua Umum PDIP ini, bukan dijadikan patokan tapi bagian dari proses.

“Tapi kenapa survainya nggak begitu bagus tapi kenapa rakyat mengenal sosok itu,” ujar Megawati Soekarnoputri.

Dalam memilih pasangan Cagub-Cawagub Bali pun, Megawati mengaku kesulitan dalam menentukan siapa yang layak maju sebagai calon Bali 1 dan pasangannya.

“Jadi orangnya kurus kecil, kalau orang Jawa bilang kayak nggak memper. Ya biar kalau dia yang saya suruh, ya saya jadikan dia. Banyak yang bilang ke saya, itu (Wayan Koster) nggak memper bu, nggak keren, yang gede yang gagah, iyaaaa, gitu saja saya,” kelakar Ketum PDIP.

Namun menurut Megawati Soekarnoputri, Wayan Koster bukan saja sosok ulung seorang politisi tapi juga akademisi. Dari profil yang dibacakan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, pria kelahiran Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, 20 Oktober 1962 itu, menyelesaikan S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Koster kemudian merampungkan S3 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bidang Majemen Pendidikan di tahun 1999. Setelah menamatkan kuliah doktoralnya, Wayan Koster mengabdikan diri di Balitbang Depdikbud serta menjadi Dosen Tetap di Universitas Tarumanegara dan Pelita Harapan. Wayan Koster juga mengajar program Paska Sarjana di UNJ.

“Kalau pilih pemimpin dasarnya apa? Minimal harus jadi DPR, karena dari dewan akan tahu jalannya pemerintahan, Undang-undang. Pak Koster ini sudah 3 kali duduk di dewan,” ujar Megawati Soekarnoputri.

Sementara, pasangannya Dr. Ir Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., berasal dari Puri Ubud Gianyar.

“Ayahnya Raja Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati yang sangat melegenda karena telah memasyurkan Desa Ubud sampai ke dunia internasional,” kata Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. (way)