Petakut dan Pindekan Sunari, Sisi Lain dari Seni Budaya Pertanian di Bali

    


Ketua Majelis Madya Subak Kota Denpasar, I Wayan Jelantik - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Lomba Petakut dan Pindekan Sunari atau membuat boneka sawah secara rutin diadakan oleh Pemerintah Kota Denpasar setiap tahun. Persiapan dilakukan oleh warga di sejumlah Kecamatan, diantaranya warga di Desa Kesiman Kecamatan Denpasar Timur.

Puluhan orang terlibat dalam pembuatan boneka sawah itu. Pada saat yang sama, penilaian dilakukan oleh tim juri dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Made Wedana menjelaskan, kegiatan itu sebagai rutinas tahunan dalam memperingati HUT Kota Denpasar. Tahun ini Kota Denpasar memasuki usia ke-231.

“Tahun ini diadakan lebih meriah dibandingkan tahun lalu. Ada 4 kecamatan yang mengikuti lomba ini,” jelas Made Wedana, Selasa, 12 Februari 2019.

Lomba Petakut, Pindekan Sunari akan digelar di Desa Intaran Timur, Sanur pada 15 Februari 2019. Made Wedana menambahkan, lomba itu diadakan untuk menjaga kelestarian budaya di masyarakat agar tidak punah. Mengingat, saat ini berbagai tradisi yang pernah ada mulai tergerus oleh perubahan jaman.

Kordinator Juri, Wayan Putu Antara mengatakan, penilaian dalam penjurian dinilai dari bahan-bahan yang dipergunakan diantaranya, ramah lingkungan, kebersamaan dalam proses pembuatan, kelengkapan yang kaitannya dengan Petakut yang berfungsi untuk menghalau hama wereng atapun hama lainnya.

“Penilaian juga dilihat dari sarana yang digunakan, sesuai dengan konsep agama, kreatifitas dalam pembuatannya. Yang jelas dalam pembuatan petakut dan juga pindekan sunari tidak menggunakan bahan plastik,” ujar Putu Antara.

Ketua Majelis Madya Subak Kota Denpasar, I Wayan Jelantik mengungkapkan, pihaknya mendukung sepenuhnya kegiatan yang bertumpu pada tradisi budaya itu. Pihaknya melihat, minat akan pertanian mulai berkurang, terutama untuk generasi muda.

Dengan adanya lomba kriya berbasis budaya pertanian itu, dirinya berharap generasi muda melihat kembali sisi lain dari pertanian. Disitu ada filosofi dan cara merawat hasil tanaman dengan menciptakan sebuah karya yang disebut Petakut dan Pindekan Sunari.

“Harapannya, generasi muda akan tertarik lagi menekuni bidang pertanian yang selama ini sepertinya sudah ditinggalkan. Kalau dilihat sekarang, rata-rata petani berumur diatas 50 tahun. Minat kepada pertanian itu yang kami sosialisasikan kepada generasi muda,” jelas Wayan Jelantik.

Petakut dan Pindekan Sunari umumnya dibuat dari bahan jerami kering yang dirangkai menjadi bagian tubuh manusia. Kemudian, pada bagian kepala, telapak tangan dan kaki dibuat dari kelapa yang diukir sedemikian rupa. (Way)