Pesan Persahabatan dan Keindonesiaan dalam Perayaan Natal BMPD Bali

    


Musikalisasi gerak dan lagu yang sarat dengan Pesan damai, kasih dan Indonesia pada perayaan Natal yang diadakan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) di gedung Bank Indonesia Provinsi Bali, Sabtu, 11 Januari 2020 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Perayaan Natal yang diadakan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) di gedung Bank Indonesia Provinsi Bali, bukan saja sarat akan pesan kasih dan damai. Namun juga meriah dengan pesan keindonesiaan.

Musikalisasi dalam balutan gerak dan lagu yang ditampilkan, terselip lagu-lagu daerah seperti Sajojo asal Papua, dan kebudayaan khas Bali. Tema nasional yang diangkat pada Natal 2019 adalah, ‘Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang’.

Dalam pewartaannya, pendeta
Robinson Kalote, S.Th., merefleksikan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa. Perbedaan pandangan memicu munculnya permusuhan, dendam sampai penganiayaan.

“Keadaan itu sangat menyulitkan untuk menjadi sahabat bagi semua orang. Peristiwa itu telah menimbulkan luka di banyak hati manusia. Ketika terluka, hal mustahil untuk jadi sahabat bagi semua orang. Hubungan bisa jadi hanya saling memanfaatkan,” kata pendeta Robin di Gedung Tirta Gangga Bank Indonesia Provinsi Bali, Sabtu, 11 Januari 2020.

Ditambahkan, persahabatan sebagai umat Tuhan harus dimaknai sebagai jembatan untuk mengalirkan kasih dari sang pencipta. Dalam persahabatan terkandung sikap kasih, pengorbanan dan murah hati.

“Persahabatan merupakan mandat Ilahi selama hidup di bumi, berilah hidupmu, posisikan hidupmu, tempatkan hidupmu menjadi sahabat bagi semua orang, tanpa batasan, perbedaan, tanpa syarat, tanpa halangan,” jelasnya.

Dalam liturgi natal itu, ibadah dibuka oleh Romo Emanuel Ano dengan homili oleh pendeta Robinson Kalote. Dua kegiatan yang berlangsung yakni, kegiatan sosial dan ibadah yang dilanjutkan perayaan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia sekaligus Ketua BMPD Bali Trisno Nugroho hadir dalam acara itu. Dalam sambutannya, Trisno mengingatkan, era digital harus disikapi secara hati-hati, terutama dalam menerima informasi yang tersebar secara cepat dan masif melalui media sosial.

“Kita harus mampu menghindarkan diri dari penyebaran berita yang tidak benar,
menyebarkan berita kebencian dan menyebarkan sikap sikap intoleransi, yang dapat merusak persahabatan dan persaudaraan,” kata Trisno Nugroho.

Dalam tugas sebagai pemangku kepentingan ekonomi di Bali, persahabatan ditunjukkan dalam sinergi antara Bank Indonesia dengan Perbankan dan Pemerintah serta Pelaku Usaha di Bali.

“Pncapaian pertumbuhan ekonomi Bali diatas pertumbuhan nasional, dengan tingkat inflasi yang lebih rendah dari Nasional, karena kuatnya jalinan persahabatan. Di Era Digital ini untuk berhasil kita tidak bisa sendiri, harus bersinergi,” jelas Trisno. (Way)