Pertemuan FARO Ketiga Digelar di Nusa Dua, Bahas Efek Radiasi Terapi Kanker

    


Pembukaan 3th FARO Meeting, di Nusa Dua, Bali - foto: Ari Wulandari/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – President Federation of Asian Organizations for Radiation Oncology (FARO) Prof. Dr. Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo mengatakan, pertemuan ahli Onkologi Radiasi Asia ke-3 (FARO) di Bali membahas berbagai isu yang berkaitan dengan penggunaan alat radiologi canggih dalam terapi kanker dan mengurangi efek radiasi.

“Karena terapi kanker itu memakai sinar sementara sinar yang sifatnya tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa tetapi memiliki efek radiasi jangka panjang maka penggunaannya diawasi secara ketat,” ujarnya usai pembukaan 3th FARO Meeting di Nusa Dua, Kamis (6/9/2018).

Itu sebabnya, pertemuan FARO yang dikuti sekitar 600 peserta dari 27 negara dan berlangsung selama 3 hari dari 6-8 September mendatang, adalah penting dalam upaya mencari solusi yang tepat dalam penanganan kanker dengan terapi sinar dengan efek radiasi yang minim.

Ditambahkan Prof. Soehartati, peralatan dunia kedokteran saat ini semakin canggih dengan adanya radioterapi yang dapat mengurangi keluhan pasien yang menjalani kemoterapi.

“Peralatan kedokteran berunsur nuklir berupa radioterapi itu dapat mengurangi keluhan pasien saat menjalani kemoterapi dan kecanggihan alat tersebut dapat menyasar pada target pemulihan yang ditentukan,” katanya.

Ia mengatakan, peralatan radioterapi saat ini sudah berkembang di negara-negara Eropa, termasuk juga di Asia. Oleh karena itu perkembangan peralatan kedokteran tersebut hendaknya bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam upaya menolong penderita kanker.

“Kerja dari peralatan ini cukup canggih, karena sistemnya seperti menggunakan ‘scanner’ berputar, dan dapat mendeteksi dengan sinar sesuai dengan target sasaran,” ujar Soehartati yang juga Ketua Program Penanggulangan Kanker Nasional ini.

Ia mengatakan, dengan peralatan teknologi yang canggih tersebut, mampu melakukan radioterapi sampai di tempat yang sangat sulit, dan tidak sampai merusak sel-sel yang lain.

“Walau peralatan kedokteran itu menggunakan sistem radioterapi yang berunsur nuklir, namun pengawasan juga tetap dilakukan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (Bapetan) dan Kementerian kesehatan,” ujarnya.

Soehartati juga menjelaskan untuk kemoterapi bagi penderita kanker yang menggunakan peralatan kedokteran radioterapi canggih di Indonesia baru ada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Bali, Nyoman Adi Wiryatama mengatakan, kebutuhan terhadap alat radioterapi canggih saat ini sudah cukup mendesak. Pemerintah diharapkan segera merealisasikan alat kedokteran untuk terapi kanker tersebut di rumah sakit di seluruh Indonesia.
Pihaknya mendorong pemerintah agar pengadaan alat kedokteran radioterapi yang canggih dalam menangani penyakit kanker itu, segera direalisasikan.

“Kami mengharapkan peralatan kedokteran yang canggih, seperti radioterapi tersebut. Sebab alat itu dapat bekerja sesuai dengan sasaran yang menjadi target. Peralatan canggih tersebut diharapkan segera ada di rumah sakit di Indonesia termasuk di Bali sendiri.

“Saya selaku wakil rakyat Bali sangat berharap ada peralatan kedokteran yang canggih dalam menangani pasien penderita kanker. Apalagi Pulau Dewata sebagai tujuan wisata dunia,” ungkapnya. (ari)