Pernah Ada 1.285 Perajin Endek Bali, Sekarang hanya 54 yang masih Eksis

    


Kain tenun ikat Pegringsingan yang menjadi ciri khas tenun ikat di desa Bali Aga, Tenganan, Karangasem, Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali Wayan Jarta mengungkap, perajin tenun Endek yang masih eksis hingga sekarang hanya 54 perajin. Dengan jumlah penenun 10-50 orang.

Sedangkan jumlah perajin Endek Bali yang pernah dibina Disperindag Provinsi Bali mencapai 1.285 orang. Jumlah penenun mencapai 2.244 orang. Sedangkan kemampuan atau potensi penenun, rata-rata per orang bisa menghasilkan kain tenun 2 meter per hari.

Jarta mengatakan, perajin adalah UMKM yang memproduksi kain tenun Endek dan mengelola secara manajerial. UMKM sendiri salah satunya memiliki tenaga penenun dalam menjalankan produksinya.

“Mereka tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Bali,” jelas Wayan Jarta, Jumat, 19 Februari 2021.

Dikatakan, meski perajin aktif hanya berjumlah puluhan saja, pihaknya masih melakukan pendampingan. Terutama, dalam pengadaan bahan baku seperti benang, pewarna hingga cara mendesain, dan finishing.

“Kalau untuk pemasaran menjadi kewenangan Dekranasda. Para pengrajin difasilitasi pameran,” jelasnya.

Saat ini, perajin maupun penenun Endek Bali memiliki payung hukum atas hasil produksi yang mereka lakukan. Dengan telah mengantongi sertifikat hak kekayaan intelektual komunal, kain tenun Endek Bali tidak boleh diproduksi secara asal-asal di luar Bali.

“Hak kekayaan intelektual komunal atas endek dipegang oleh pemerintah PROVINSI Bali. Artinya, milik semua masyarakat Bali yang memproduksi di Bali,” kata Jarta.

Ia menghimbau, agar perajin meningkatkan kemampuannya, berkreasi juga melakukan inovasi. Produk tenun Endek yang dihasilkan diharapkan juga memiliki kualitas dan harga yang kompetitif.

“Tingkatkan efisiensi produksi agar menghasilkan produk yg berkualitas dengan harga yang kompetitif,” ujarnya. (Way)