Peringati Tragedi 11 September Klaten Gelar Biennale 3 Dimensi

    


Ilustrasi/Meddia

KORANJURI.COM – Sebanyak 40 seniman kontemporer akan unjuk gigi pada pagelaran Biennale di Klaten, September 2017. Para perupa tersebut berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Dari Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang, Medan, Bogor, Pasuruan, Surabaya, Denpasar, Solo, dll. Meskipun demikian, mayoritas yang akan tampil adalah para seniman yang belum begitu dikenal publik. Terutama dalam jagad senirupa Indonesia, nama-nama mereka memang belum begitu mencuat.

“Kami sengaja menghadirkan seniman-seniman muda, atau seniman-seniman yang selama ini belum mempunyai wadah ekspresi. Sehingga event Biennale ini diharapkan bisa menjadi ruang publik bagi para seniman yang ikut serta,” ujar Temanku Lima Benua (16), manajer dari sanggar Lima Benua Klaten.

Kata Biennale sendiri berarti pameran karya seni dua tahunan. Atau lebih spesifik, adalah pameran karya seni kontemporer yang digelar setiap 2 tahun. Menurut sejarahnya sudah dimulai sejak tahun 1975. Dimana saat itu berkaitan dengan peristiwa Desember kelam atau Desember hitam. Yaitu sebuah peristiwa politik yang berimbas kepada nasib banyak seniman, terutama kaum seniman intelektual yang bersarang di kampus-kampus seni.
Sejak saat itulah pameran atau Biennale tersebut semakin berkembang. Bahkan di seluruh dunia juga mulai diorganisasi. Biennale paling puncak, atau mewakili seluruh seniman dari seluruh dunia biasa diselenggarakan di Itali setiap akhir tahun. Sementara di Indonesia sendiri, juga sudah dikenal di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Yogya, dan Surabaya.

“Untuk kota Klaten memang baru pertama kalinya kami selenggarakan. Sehingga kami sangat perlu mengenalkan apa itu Biennale kepada masyarakat, khususnya kaum seniman,” sambung gadis yang baru duduk di bangku kelas 1 SMU I Ceper Klaten ini.

Dalam event pertama kalinya nanti, mengambil tema tentang keberagaman serta kepahlawanan. Sehingga waktu pembukaan pameran sengaja dibarengkan dengan hari peringatan tragedi 11 September. Yaitu sebuah peristiwa kelam yang sempat menteror gedung WTC, di negeri Amerika beberapa waktu silam. Peristiwa teror itu, sarat dengan isu yang membuka konflik lebar. Terutama konflik antar ras atau umat beragama di seluruh dunia.

Sehingga sangat layak jika isu tentang persatuan dalam keberagaman umat manusia, atau umat beragama perlu dipupuk setiap waktu. Sehingga peristiwa atau tragedi memilukan yang merenggut ribuan nyawa tersebut, tidak akan terulang kembali. Peran seniman tentu sangat besar dalam membuat atau mengkampanyekan persatuan dalam keberagaman budaya atau agaman tersebut.

Selain isu keberagaman, tema tentang kepahlawanan juga dianggap penting dalam pendidikan karakter. Terutama karakter generasi muda atau anak-anak sebagai penerus bangsa. Dalam rangkaian kegiatan Biennale nanti, juga digelar ajang lomba melukis, mewarnai, serta beberapa kegiatan bertema kepahlawanan yang melibatkan anak-anak.

“Jika anak-anak sejak dini dikenalkan dengan karakter tokoh pahlawan kebanggaannya, maka jika sudah besar nanti pasti akan bisa melekat terus dalam jiwa nasionalis dan patriotismenya. Yaitu semangat membela yang benar dan lemah,” terangnya.

Sehingga tidak hanya teori tentang pelajaran sejarah saja yang diperoleh anak-anak di sekolah. Namun dengan praktek sendiri untuk menjiwai, serta mengapresiasi tentang tokoh kepahlawanan, mereka diharap bisa lebih kuat dan awet dalam membawakan semangat serta inspirasi kepahlawanan (hero) dalam hidupnya. Bahkan hingga kelak mereka dewasa nanti. (Med)