Pengusiran ‘Roh Jahat’ yang Dipanggungkan Seniman Korea Selatan

    


Penampilan seniman-seniman Korea Selatan di Panggung Ksirarnawa Taman Budaya, Denpasar - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Ukiran khas Bali yang menemani Panggung Ksirarnawa Taman Budaya, Denpasar berpadu dengan tradisi khas Korea Selatan yang menyenangkan. Tempik sorak menyambut penampilan apik seniman negeri ginseng itu.

Tak ada yang dapat menolak kala grup musik tradisional asal Korea Selatan ‘Meet Wussian Clowns’ mengajak para penonton untuk menari bersama di Panggung Ksirarnawa.

Interaksi para pemain tradisi khas Korea Selatan itu menghasilkan sebuah garapan yang menghibur dan komunikatif. Ajakan personel Meet Wussian Clowns untuk menari bersama dinamakan Heung.

Tak hanya Heung, masih ada 3 (tiga) garapan pamungkas yang membuat para penonton untuk tak sabar ikut menari. Ketiga garapan spesial itu diantaranya ‘Chookwon’ (Berkat) adalah upacara tradisional yang berasal dari provinsi Gyengsang, Korea.

Upacara itu merefleksikan perayaan tahun baru. Secara tradisi, biasanya, perayaan ini ditampilkan dengan mengelilingi desa untuk mengusir roh jahat dan sebagai doa mereka agar rumah dan desa dilingkupi oleh kedamaian.

Kalau diperhatikan dengan seksama, tradisi Chookwoon ini serupa dengan tradisi menabuh perabotan rumah tangga yang dilakukan umat Hindu di Bali saat pengrupukan.

Tradisi kedua disebut dengan Cheongsin’ (Permohonan kepada Dewa Pencipta) Ritual ini akan menampilkan Sybil yang muncul dengan mengayunkan bambu ke arah penonton. Pengrajin membuat lampu yang telah digantung dan difungsikan untuk memanggil Dewa Sejon.

Sybil meminta untuk hidup panjang dan mempunyai banyak keturunan dari ritus kelahirannya kepada Sejon, Dewa pemberi berkat. Di sinilah ada suara unik yang berasal dari dukun pantai timur, dan ritual ini akan diakhiri dengan menari Shangmo.

Tradisi ketiga adalah Naori & Sinmyung yang berarti masuk ke alam trans (gaib). Ritual ini dinilai paling menarik. Sebab para penari akan merekonstruksi lipatan gongsang-do (pita kertas yang berukuran 1-2 meter).

Berbagai pengaturan dan gerakan indah akan ditampilkan kepada penonton. Pertunjukan ini merupakan pertunjukan dinamis yang dihadirkan melalui skema langit yang dibentangkan di panggung.

Sebagai puncaknya, pemain akan datang ke arah penonton, dan membuat riuh panggung maupun di luar panggung untuk bersama-sama mendapati puncak kegembiaraan, menuju alam trans (gaib).

Menurut Anak Agung Anom Darsana, sebagai perwakilan dari Indonesia untuk tradisi Korea Selatan, bahwa garapan ini tak disengaja awalnya untuk tampil pada Pesta Kesenian Bali ke-40 ini.

“Awalnya mau menggarap drama musikal, hanya saja kendala waktu mengharuskan kami untuk menampilkan tradisi musik ini,” jelas Anom.

Meski akhirnya harus banting setir, namun Anom tetap bahagia melihat respon positif serta antusiasme penonton yang cukup tinggi. Anom pun menuturkan bahwa dengan adanya garapan ini bisa mempererat jalinan persahabatan antara Indonesia dengan Korea Selatan. (*)