Penggunaan Produk Pertanian Lokal Tekan Inflasi di Bali

    


Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri Rapat Koordinasi Wilayah Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bali Nusra di The Anvaya Beach Resort Bali, Badung, Kamis (9/5/2019) - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Pemanfaatan produk lokal, memiliki pengaruh dengan terpenuhinya ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat, seperti produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, produk lokal tersebut memberikan dampak positif untuk inflasi di Bali.

“Selama ini, kebutuhan bahan pokok dipasok dari luar dengan jumlah yang tidak menentu. Kekurangan pasokan juga terkadang menyebabkan naiknya angka inflasi. Untuk itu, peningkatan produksi produk lokal Bali sangat penting,” jelas Koster saat menghadiri Rapat Koordinasi Wilayah Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bali Nusra di The Anvaya Beach Resort Bali, Badung, Kamis (9/5/2019).

Selama ini, sektor pertanian belum mendapat perhatian secara optimal. Gubernur Bali telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 99 Tahun 2018 Tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.

“Kita tahu Bali sebagai tujuan wisata dunia. Tapi sayangnya selama ini para petani tidak menerima manfaat pariwisata Bali secara langsung,” jelasnya.

Keluarnya Pergub tentang produk pertanian lokal itu, bertujuan sebagai jembatan antara pelaku wisata dan petani.

“Saya ingin antara pariwisata dengan pertanian harus dipertemukan, diberdayakan dan disinergikan sebagai strategi dalam membangun perekonomian Bali guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani, nelayan, dan pelaku serta pegiat industri lokal Bali,” ujarnya.

Dengan demikian, angka inflasi di Bali bisa tetap stabil.

Sementara, Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Causa Iman Karana mengatakan, di Triwulan I tahun 2019 Bali Nusra mengalami inflasi sebesar 2.06% atau lebih rendah dibandingkan inflasi pada triwulan IV tahun 2018 sebesar 3.13%.

Secara spasial, inflasi tahunan pada triwulan I tahun 2019 lebih landai dibanding triwulan IV tahun 2018.

“Inflasi masih terjadi di wilayah Bali Nusra pada triwulan I tahun 2019 secara tahunan,” jelas Causa Iman.

Inflasi itu terutama disebabkan oleh tekanan kenaikan harga yang terjadi di kelompok bahan makanan dengan komoditas antara lain, daging ayam ras, daging babi, telur ayam ras serta bawang merah.

Selain itu, tekanan kenaikan harga di Bali Nusra pada periode laporan juga didorong oleh kelompok komoditas transportasi dengan komoditas berupa angkutan udara.

“Kita identifikasi risiko inflasi saat hari besar keagamaan seperti Ramadhan dan Idul Fitri, serta perumusan strategi pengendalian inflasi untuk menjaga inflasi tetap terkendali,” jelasnya demikian. (*)