Pengakuan Ayah Terduga Teroris yang Ditangkap di Gunung Kidul

    


Rumah orang tua Markino di Dusun Sutoragan, Desa Sumbersari, Butuh, Purworejo - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Densus 88 Anti Teror telah mengamankan Markino (47), warga Padukuhan Ngunut Tengah, Desa Ngunut, Kecamatan Playen, Gunungkidul pada Rabu (20/11) pagi, yang diduga terlibat dalam aktivitas terorisme.

Informasi menyebutkan, bahwa Markino lahir dan dibesarkan di Purworejo, tepatnya di Dusun Sutoragan, RT.3 RW.1, Desa Sumbersari, Butuh, Purworejo. Hingga saat ini, kedua orang tua Mr, Pawirorejo dan Keminah masih tinggal di desa tersebut.

Ditemui di rumahnya yang sederhana, Pawirorejo (70) membenarkan, jika Markino itu anaknya yang pertama, dan sudah menikah dengan Sugiyem, warga Ngunut, Playen, dan sudah memiliki satu anak.

“Sejak dia di PHK duapuluh tahun silam, Markino pindah dan menetap di Playen, di tempat istrinya,” ungkap Pawirorejo, Kamis (21/11).

Di Playen, setahu Pawirorejo, anaknya itu membuka usaha toko sembako. Setiap setahun dua kali, Markino selalu pulang ke Sumbersari, menengok kedua orangtuanya saat Lebaran Idul Fitri dan Lebaran Haji. Namun setahun belakangan ini, Markino belum pernah pulang ke rumah.

Saat ditanya perihal informasi kalau putranya itu terlibat jaringan teroris dan ditangkap Densus 88, baik Pawirorejo dan istrinya, mengaku tak tahu. Justru, mereka tahu kabar itu dari wartawan. Keminah sempat pingsan mendengarnya.

“Semoga saja, anak saya tidak kenapa-kenapa,” ujar Keminah (70) penuh harap.

Sementara itu, Yusak, Kepala Desa Sumbersari membenarkan, jika Markino lahir di Desa Sumbersari, dan menghabiskan masa kecilnya di desa ini. Namun saat ini, status kependudukan Markino bukan lagi warga Sumbersari. Di Kartu Keluarga Pawirorejo, hanya tercantum tiga nama, Pawirorejo, Keminah, dan Margono, adik paling bungsu Markino. Soal keterlibatan Markino dengan jaringan teroris, Yusak mengaku tak tahu menahu.

“Sejak sekolah dia memang cerdas, khususnya pelajaran matematika. Setahu saya, dia sekolah terakhir di sebuah SMK di Purworejo,” ujar Yusak, teman masa kecil Markino.

Sementara itu, Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong menyampaikan, dirinya memang mendapat informasi adanya penangkapan terhadap yang bersangkutan oleh Densus 88, dan dari pengembangan, diperoleh informasi yang bersangkutan pernah tinggal di daerah Butuh bersama orangtuanya.

“Tapi yang bersangkutan sudah duapuluh tahun meninggalkan daerah Butuh,” ujar Kapolres.

Dengan peristiwa ini, Kapolres akan segera mengumpulkan para kades se Purworejo, untuk disampaikan pesan-pesan Kamtibmas. Dirinya juga punya inovasi, yakni satu polisi desa.

Diharapkan, polisi harus tahu kadesnya. Dan kades harus tahu masyarakatnya, gerak gerik masyarakatnya terpantau, tahu warga yang masuk dan keluar, dan tidak terjadi lagi kecolongan.

“Sehingga tidak bisa dimasuki paham-paham radikal,” pungkas Kapolres Purworejo. (Jon)