Pemulihan Ekonomi Pariwisata Bali dan Ancaman Lonjakan Covid yang Masih Mengintai

    


Wisatawan domestik tengah menikmati atraksi lumba-lumba di pantai Lovina, Buleleng, Bali, sejalan dengan penurunan level pembatasan kegiatan masyarakat dan dibukanya kembali destinasi wisata - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pemerintah sampai saat ini masih memikirkan formula yang tepat agar Bali kembali dikunjungi wisatawan asing. Hampir sebulan border lintas negara dibuka, namun tidak terlihat pergerakan wisman ke pulau Dewata.

Persoalan covid-19 di tanah Seribu Pura telah tertangani dengan baik. Kasus aktif yang masih ditangani di rumah sakit rujukan per 18 November 2021 tercatat 159. Angka positif harian 5 orang, sembuh 6 orang dan meninggal nihil.

Yang sampai saat ini jadi ganjalan wisman enggan masuk ke Bali ditengarai karena kebijakan karantina 3 hari. Selain itu, wisman juga masih harus mengikuti karantina ketika mereka kembali ke negaranya.

Sedangkan length of stay atau lama tinggal wisatawan asing rata-rata hanya berkisar 7-8 hari. Praktis, pertimbangan itu membuat kebijakan open border internasional belum gayung bersambut.

Penanganan covid-19 yang maksimal dan pemulihan ekonomi harus berjalan selaras. Terlebih, sejumlah wilayah di Bali telah ditetapkan sebagai zona hijau. Meski saat ini opsi yang dipilih adalah memulihkan sektor kesehatan terlebih dahulu.

“Ini kan syaratnya, yang sudah vaksin lengkap dan dengan hasil negatif PCR, ya sebenarnya sudah aman. Kalau sudah gitu harapan kita nda perlu karantina, kalaupun karantina cukup satu hari untuk nunggu hasil PCR saja,” kata Koster di gedung Jayasabha, Denpasar, Kamis (18/11/2021).

Penanganan covid-19 yang membaik dan penerapan standar prokes ketat di Bali jadi alasan Pemprov Bali mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk menghapus karantina.

“Sudah saya usulkan,” ujar Gubernur.

Sedangkan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace kembali menyuarakan kesiapan pemerintah provinsi Bali dalam mengendalikan penularan covid-19.

Di sektor tourism, pekerja pariwisata yang telah mendapatkan vaksinasi mencapai 100%. Akomodasi pariwisata di Bali juga telah mengantongi sertifikat CHSE termasuk fasilitas umum lainnya.

Ada 1.576 fasilitas pariwisata yang telah mendapatkan sertifikat CHSE. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat. Terkait sertifikasi ini, Kemenparekraf menambah 1.200 kegiatan CHSE, untuk 200 hotel dan 1.000 untuk bisnis non-hotel di Bali.

Selain itu, survei yang dilakukan Kemenkes RI, disiplin masyarakat Bali untuk penerapan protokol kesehatan tertinggi di Indonesia mencapai 92%.

“Untuk itu saya berharap masyarakat internasional yakin dan percaya terhadap Bali, dimana Bali aman untuk dikunjungi,” jelas Cok Ace.

Dalam penanganan sebaran kasus Covid-19, Bali menyiapkan 62 RS rujukan. Herd immunity di Bali mencapai 70% dari target 3.405.130 warga. Data terakhir yang tercatat pada 11 November 2021, kelompok yang telah mendapatkan vaksin tahap 1 mencapai 100.64% dan tahap 2 adalah 87,28%.

“Ada kerjasama yang terintegrasi dengan TNI/Polri, swasta dan institusi pariwisata. Sasaran vaksinasi adalah tenaga kesehatan, pekerja publik, orang lanjut usia, serta remaja,” kata Cok Ace.

Sementara, di tempat terpisah, dr Gede Wardana dari RS Sanglah Denpasar mengatakan, penyebaran covid-19 di Indonesia saat ini mulai menurun. Namun, ia mewanti-wanti agar tidak lagi terjadi ledakan yang dapat memicu gelombang ketiga.

“Kedepannya tidak tahu. Kita harus waspada jangan sampai kena gelombang ketiga seperti di sejumlah negara luar,” kata dr Gede Wardana di Tanjung Benoa, Bali. (Wahyu Siswadi/Kode:Way)