Pemerintah Amerika Fasilitasi Pelatihan Multilingual untuk Guru di Bali

    


Ki-ka: Direktur RELO Dr. Bradley Horn, Konsul Jenderal AS Surabaya Mark McGovern, Kepala SMA Negeri 7 Denpasar Cokorda Istri Mirah Kusuma Widiawati dan salah satu dosen IAIN Salatiga yang juga English Language Fellows (ELF) dan Rachel Wang, mahasiswa Ilmu Budaya di Universitas Sam Ratulangi yang juga seorang ELF - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Ratusan guru di Bali terlibat dalam upaya pelestarian bahasa lokal yang diadakan pemerintah Amerika Serikat. Pelatihan diadakan bertepatan dengan momen Bulan Bahasa Bali yang digelar selama sebulan penuh.

Melalui Regional English Language Office (RELO) Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, mengadakan Pelatihan Multibahasa Membaca dan Menulis Kreatif dalam perayaan Bulan Bahasa Bali.

“Pelatihan ini dirancang untuk mempromosikan literasi dalam bahasa Bali, Indonesia, dan Inggris,” kata Konsul Jenderal AS Surabaya Mark McGovern di SMA Negeri 7 Denpasar, Kamis, 6 Februari 2020.

McGovern mengatakan, pemerintah Amerika Serikat berharap, ketrampilan multilingual yang dikuasai peserta bukan saja akan membukakan wawasan yang lebih luas. Tapi juga melestarikan bahasa lokal dan menghormati tradisi budaya, terutama di Bali.

Workshop mencakup empat Kabupaten/Kota di Bali yakni, Denpasar, Tabanan, Karangasem, dan Bangli. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak 250 guru Bahasa Inggris tingkat SMU.

Pelatihan itu juga melibatkan 50 English Language Fellows (ELF) dari Amerika Serikat. Para ELF ini merupakan peserta program pertukaran pendidikan yang disponsori oleh Departemen Luar Negeri AS, Biro Urusan Pendidikan dan Kebudayaan.

“Pemerintah AS merancang kegiatan ini untuk mempromosikan literasi dalam bahasa Bali, Indonesia, dan Inggris,” jelasnya.

Kepala SMA Negeri 7 Denpasar, Cokorda Istri Mirah Kusuma Widiawati mengatakan, salah satu aset terbesar yang dimiliki Bali adalah budaya, yang mencakup penggunaan bahasa daerah.

Workshop yang diadakan, seperti dikatakan Cok Mirah Kusuma Widiawati akan mendukung program literasi yang telah dicanangkan di SMA Negeri 7 pada 2016 lalu.

“Program literasi yang telah kita canangkan, saat ini berkembang dengan sejumlah karya tulis, ada sekitar 80 karya tulis yang dihasilkan oleh siswa kita,” jelas Kepala sekolah yang akrab disapa Bu Cok ini.

Dirinya berharap, karya tulis itu akan berkembang lagi dalam bentuk Multilingual 3 bahasa.

RELO memberikan sesi pelatihan yang berbeda dari Workshop yang diadakan. Pelatihan berfokus tentang cara mempromosikan membaca yang ditujukan untuk kesenangan. Termasuk, penulisan kreatif dalam bahasa Bali, Indonesia, dan Inggris.

“Kami berharap keterampilan literasi yang dikembangkan dalam satu bahasa dapat mendukung perolehan keterampilan yang sama dalam bahasa tambahan,” kata Direktur RELO Dr. Bradley Horn.

“Pengajaran bahasa nasional (Bahasa Indonesia) atau bahasa global (Inggris), tidak perlu dilihat sebagai ancaman bagi bahasa lokal seperti Bahasa Bali, tapi sebagai cara untuk melestarikan dan memperkuat mereka,” tambahnya. (Way)