Pemandu Karaoke Ditemukan Tewas di Dalam Sumur

    


Foto korban Sri Iswanti semasa hidup - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Warga Dusun Kesambi, Desa/Kecamatan Loano, Purworejo gempar. Salah satu warganya yang bernama Sri Iswanti (21), ditemukan tewas, di dalam sumur lahan pertanian Dusun Glagah, Desa Glagah, Temon, Kulonprogo, Kamis (11/1) pagi.

Penemuan mayat Sri, bermula, saat salah seorang warga sekitar jam 06.00 WIB berniat mengecek sumur. Saat itu, dilihatnya samar-samar ada sesosok tubuh manusia di dalam sumur.

Untuk memastikan hal itu, saksi kemudian memanggil warga lainnya. Bersama warga, pengecekan dilakukan. Setelah dipastikan bahwa yang berada dalam sumur itu sesosok mayat, warga melaporkannya ke polisi.

Bersama tim SAR, petugas dari Polsek Temon langsung melakukan evakuasi. Saat diangkat, mayat perempuan tersebut diketahui mengenakan celana biru, dengan atasan berwarna merah hati, berambut pirang serta memiliki tato di paha kanan.

Menurut keterangan Kapolsek Temon, Kompol Setyo Heri Purnomo, dari hasil pemeriksaan sidik jari, diketahui korban bernama Sri Iswanti, warga Kesambi, Loano, Purworejo. Diduga, merupakan korban pembunuhan, dengan ditemukannya sejumlah luka di tubuh korban.

Sri Iswanti - foto: Istimewa

Sri Iswanti – foto: Istimewa

Jasad korban selanjutnya dibawa ke RS Bhayangkara, Polda DIY untuk diotopsi. Malam harinya, jenasah korban diserahkan keluarganya, dan langsung dimakamkan.

Ditemui di rumahnya, Jum’at (12/1), Ny. Marsih (55), ibunda dari korban Sri, terlihat sangat shock dengan kematian putrinya itu. Dia tak mengira, putrinya itu akan mengalami nasib setragis itu.

Dari penuturan Ny. Marsih, putrinya itu bekerja sebagai pemandu karaoke di sebuah kafe di daerah Purwodadi, sejak 2 bulan silam. Sejak seminggu sebelum kejadian, putrinya itu kos di daerah Boro.

“Hari Rabu pundak kiri saya sempat kejatuhan cicak. Itu firasat buruk. Nggak tahunya, itu firasat kepergian Sri untuk selama-lamanya,” ujar Ny. Warsih dengan nada sedih.

Malam sebelum kejadian, cerita Ny. Warsih, putrinya itu sempat menelponnya. Dia hanya menanyakan, apakah ibunya itu jadi ke tempat neneknya di Pituruh. Dan Sri berjanji akan mengantarkan ibunya itu pada Jum’at pagi.

Dan selama bekerja di cafe, kata Warsih, korban juga tak pernah mengeluh atau curhat tentang suatu masalah. Dia juga tak tahu, apakah putrinya itu ada masalah di pekerjaannya atau ada masalah pribadi. Selama ini, korban dikenal dengan pribadi yang tertutup.

“Semoga saja, polisi berhasil menangkap pelaku yang tega menghabisi putri saya, dengan cara sesadis itu,” harap Warsih, yang didampingi suaminya Subur Supriyanto. (Jon)