Pelaku Pariwisata Harapkan Komitmen Penuh Pemerintah Bentuk Bali Convention Bureau

    


Forum Group Discussion (FGD) dengan tema 'Akselerasi Pembentukan Bali Convention Bureau untuk mendorong MICE dan Events Internasional di Bali' digelar di Gedung Bank Indonesia Perwakilan Bali. Kegiatan dihadiri oleh pemangku kepentingan pariwisata di Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Wacana pembentukan Bali Convention Bureau kembali mencuat setelah sekian lama tertunda. Praktisi Pariwisata Ida Bagus Ngurah Wijaya mengatakan, sejak tahun 1990-an, pelaku pariwisata di Bali telah memulai membangun sarana Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition atau MICE.

Kemudian, wacana itu kembali menguat setelah pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) di Nusa Dua pada 2013 lalu. Namun, hingga sekarang wacana tinggal wacana. Harapan Bali memiliki Bali Convention Bureu belum terwujud.

“Peraturan kita sudah ada sih sebenarnya, dari undang-undang pariwisata itu. Cuma sekarang, pemerintah tingkat I dan tingkat II tidak seratus persen komit ya, untuk mendorong dan mempromosikan pariwisata ini,” jelas Ida Bagus Ngurah Wijaya, Jumat, 20 September 2019.

Diakui IB Ngurah Wijaya, mendirikan biro konvensi membutuhkan cukup biaya, terutama dalam pembuatan database dan bidding atau promosi. Jika pembiayaan bidding itu dapat diatasi, kata Ngurah Wijaya, MICE akan lebih menjanjikan dibandingkan mengelola destinasi untuk aktifitas leisure.

“Karena MICE sudah pasti siapa saja pesertanya, kalau leisure kan belum tahu siapa yang akan pergi,” tambahnya demikian.

Ngurah Wijaya menilai, Bali memiliki sumber daya manusia yang kompeten dalam mengelola biro konvensi. Kualifikasi SDM Bali setara dengan negeri jiran seperti Thailand, Singapura, Bangkok maupun Malaysia.

Kualifikasi SDM itu juga didukung oleh fasilitas pendukung yang memadai dengan banyaknya sarana MICE di Bali. Selain itu, Bali juga memiliki potensi alam dan budaya yang unik.

“MICE bisa dilakukan secara terprogram, berapa tahun sekali bisa diadakan. Spending nya pun bisa tiga kali lipat dari kunjungan wisata secara umum,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho. Ia mengatakan, kustomer MICE cukup menjanjikan untuk meraup benefit dari berbagai sektor pendukung pariwisata.

“Banyak sekali korporasi maupun asosiasi, tapi kita enggak ikut bidding. Dengan adanya dorongan membentuk Bali Convention Bureau, diharapkan kita banyak mendapatkan event MICE dari korporasi dalam maupun luar negeri,” jelas Trisno Nugroho.

Forum Group Discussion (FGD) dengan tema ‘Akselerasi Pembentukan Bali Convention Bureau untuk mendorong MICE dan Events Internasional di Bali’ digelar di Gedung Bank Indonesia Perwakilan Bali. Kegiatan dihadiri oleh pemangku kepentingan pariwisata di Bali. (Way)