Pasar Gotong Royong Gairahkan Ekonomi Kerakyatan Produk Lokal Krama Bali

    


Gubernur Bali Wayan Koster mengumumkan keluarnya SE Gubernur Bali Nomor 15036 Tahun 2020 tentang Program Pasar Gotong Royong Krama Bali di Jayasabha, Denpasar, Rabu, 22 Juli 2020 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Dalam mempercepat pemulihan perekonomian rakyat di masa pandemi covid-19, Pemprov Bali menginisiasi gerakan pasar gotong royong krama Bali.

Kegiatan itu dipayungi melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 15036 Tahun 2020 tentang Program Pasar Gotong Royong Krama Bali. Program baru tersebut mulai berlaku mulai 7 Agustus 2020.

Regulasi dalam SE tersebut bertujuan, bergotong-royong membantu petani, nelayan, perajin, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam memasarkan produk mereka.

Seperti diketahui, dampak ekonomi akibat pandemi covid-19 sangat dirasakan oleh semua lini usaha. Tak terkecuali petani, nelayan dan UMKM.

Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan, Program ini difasilitasi oleh Pemerintah Daerah, Instansi Vertikal, BUMN/BUMD, dan pihak swasta. Pemerintah mempertemukan secara langsung penjual dan pembeli produk pangan dan sandang Krama Bali.

“Penjual dan pembeli dapat melakukan transaksi dengan harga yang lebih wajar, sama-sama diuntungkan,” jelas Gubernur di Jayasabha, Denpasar, Rabu, 22 Juli 2020.

Dijelaskan, Pasar Gotong Royong Pangan Krama Bali dilaksanakan pada hari kerja, setiap hari Jumat, mulai pukul 07.00 Wita sampai selesai. Khusus pada hari Jumat setiap awal bulan, pasar itu juga menjual sandang Krama Bali.

Pasar Gotong Royong Krama Bali dilaksanakan secara serentak oleh Pemerintah Daerah, Instansi Vertikal, BUMN/BUMD, dan/atau pihak swasta di Bali.

Dalam pelaksanaannya, SE tersebut juga mengatur pendataan dan pengaturan penjual produk pangan dan sandang dilakukan oleh Dinas yang menangani urusan pangan dan sandang.

“ASN wajib berbelanja sekurangnya 10 persen dari gaji per bulan. Ini untuk membantu menggerakkan kembali ekonomi kerakyatan,” kata Koster.

Dijelaskan lagi, pedagang di pasar gotong royong ini menjual produk mereka dengan harga lebih murah dibandingkan pasar tradisional maupun swalayan. Mengingat, kata Gubernur, pembeli di pasar gotong royong ini menjadi tangan pertama dari produk yang dijual.

“Harganya harus harga yang sesuai, kalau bisa lebih rendah karena dari petani langsung, karena tidak pakai calo,” jelasnya.

Menurut Wayan Koster, pihaknya menginisiasi pasar gotong royong itu, karena keprihatinan terhadap sektor usaha, terutama, kelompok petani/nelayan maupun UMKM yang tak bisa memasarkan produk mereka akibat pandemi.

“Sebelumnya sudah dilakukan di Dinas Pertanian dan program itu mendapat perhatian dari ibu Putri. Gagasan positif itu dikembangkan lagi seperti sekarang,” tambahnya.

Koster juga menekankan, aktifitas di pasar Gotong Royong Krama Bali itu, dilarang menggunakan kantung plastik sekali pakai. (Way)