Parlemen Antar Negara Bahas Ekonomi Hijau di Era Pandemi

    


Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri pertemuan antar parlemen dunia dalam membahas pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi covid-19, Rabu, 23 September 2020 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Bali kembali dipilih menjadi lokasi pertemuan internasional oleh Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Sejumlah pertemuan tingkat Kementerian dan Lembaga Negara di Bali, dikatakan Gubernur Bali Wayan Koster, membantu upaya pemulihan pariwisata dan perekonomian Bali yang terpukul akibat pandemi Covid-19.

“Kita berharap banyak pertemuan yang akan menghasilkan rumusan terbaik bagi upaya pemulihan ekonomi,” kata Gubernur di The Patra Hotel, Tuban, Badung, Rabu (23/9/2020).

Meeting mengambil tema ‘Reshaping Indonesia’s Green Economy Agenda in the Struggle of Post-Covid 19 Recovery: Enhancing the Roles of Parliament through Innovative Citizen Engagements’.

Pertemuan yang dilakukan semi daring itu memungkinkan sejumlah narasumber hadir langsung di tempat acara. Sedangkan peserta mengikuti secara virtual.

Narasumber yang hadir diantaranya, Ketua BKSAP DPR RI Fadli Zon, Wakil Ketua Mardani Ali Sera, anggota DPR RI asal Bali Putu Supadma Rudana, Nyoman Parta dan sejumlah anggota DPR RI lainnya.

Dikatakan Gubernur, forum tersebut menjadi kebutuhan yang relevan dengan kondisi di masa pandemi covid-19. Di tingkat parlemen ada upaya berbagi wawasan, pengalaman, dan pengetahuan untuk mendorong terwujudnya kekuatan ekonomi hijau menuju tatanan era baru dunia.

“Dalam menghadapi pandemi covid-19, dibutuhkan kesabaran tinggi dengan terus melakukan berbagai upaya, sembari memohon kepada Tuhan agar pandemi Covid-19 segera berlalu,” kata Koster.

Gubernur memberikan gambaran bagaimana masyarakat Bali memandang pandemi dalam perspektif kearifan lokal. Menurutnya, masyarakat Bali memiliki keyakinan, wabah penyakit merupakan bagian dari siklus alam yang bisa datang berulang dalam periode tertentu.

Di era milenial ini, muncul pandemi Covid-19. Dampak yang ditimbulkan sangat luas di berbagai bidang kehidupan. Terpuruknya pariwisata juga dirasakan masyarakat Bali sejak pandemi ini muncul tujuh bulan lalu.

“Munculnya wabah penyakit merupakan penanda adanya ketidakharmonisan atau ketidakseimbangan alam pada tingkatan berbahaya, akibat ulah manusia yang tidak terkendali dalam berbagai aspek seperti eksploitasi alam,” kata Gubernur.

Hadir beberapa narasumber dari Bali antara lain, Popo Danes, Drs. Ketut Putera Erawan., MA., Ph.D dan Prof. dr. Dewa Putu Widjana, DAP&E,Sp. ParK.

Selain itu juga hadir utusan COP26 Pemerintah Inggris Dr John Murton dan Direktur Regional Asia dan Amerika Westminster Foundation for Democracy Matthew Hedges. (Way/*)