Pameran Bali Bangkit Edukasi Masyarakat tentang Produk Lokal Bernilai Tinggi

    


Ketua Dekranasda Bali Putri Suastini Koster saat meninjau Pameran IKM/UMKM Bali Bangkit periode ketiga di Taman Budaya Bali, Minggu, 3 Januari 2021 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Melihat animo masyarakat yang tinggi dan omzet yang tinggi, pameran IKM/UMKM Bali Bangkit kembali diperpanjang mulai 3 Januari hingga 15 Januari 2021. Pameran ini diadakan ketiga kalinya secara berturut-turut. Tujuannya untuk membangkitkan Ekonomi masyarakat yang terpuruk akibat covid-19.

Pameran pertama berlangsung pada 4-17 Desember 2020 yang diikuti 10 UMKM kuliner dan 88 UMKM perajin. Sementara tahap kedua pada tanggal 18-31 Desember 2020.

Ketua Dekranasda Bali Putri Suastini Koster mengatakan, selama peluang berpameran di Taman Budaya masih ada, pihaknya akan terus menggerakkan geliat ekonomi industri kecil melalui pameran Bali Bangkit.

“Soal Rp 1,5 M (omzet) itu urusan mereka (pelaku UMKM). Kami hanya memfasilitasi agar mereka bisa berpameran dan menggeliatkan ekonomi di Bali,” jelas Putri Koster ketika meninjau pameran IKM/UMKM Bali Bangkit di Taman Budaya Bali, Minggu, 3 Januari 2021.

Untuk mensiasati agar mendapatkan kelonggaran fasilitas di Taman Budaya, Pameran IKM/UMKM Bali Bangkit diadakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali. Mengingat, unsur pemerintah yang memanfaatkan Taman Budaya Bali tidak akan mendapatkan pungutan sewa gedung.

Putri Koster menjelaskan, selama masa pandemi, IKM/UMKM yang dianggap salah satu sektor yang cukup stabil menghadapi tekanan, ternyata juga goyang dan banyak yang berhenti berproduksi. Dengan memfasilitasi dalam sebuah pameran, Putri Koster mengatakan, akan muncul multiplier effect. Pelaku UMKM dapat kembali menggeliat dan perputaran ekonomi di masyarakat berangsur pulih.

Pameran industri kecil dan menengah itu sekaligus untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait produk-produk lokal yang berkualitas. Putri Koster mengatakan, tidak seharusnya produk lokal terpinggirkan karena gelontoran produk luar negeri.

Business is business tapi kita harus mengedukasi masyarakat, mana produk yang asli, mana produk yang bagus mana produk yang memang harga mahal, jangan mengolok-olok konsumen. Nanti kalau kita kehilangan kepercayaan, barang itu tidak laku lagi,” jelasnya.

Menurutnya, IKM/UMKM tidak hanya sekedar bisnis untuk meraup keuntungan. Namun, juga sebagai cara pelestarian warisan leluhur dari produk-produk kearifan lokal yang bernilai tinggi. Putri Koster berharap, nilai kearifan lokal berupa kerajinan akan terus meningkat dan bukan justru mengalami penurunan kualitas atau bahan baku.

“Kita contohkan perak, dulu kita ngukir perak, tapi sekarang malah nyetak alpaka. Itu menurunkan grade kerajinan itu sendiri,” ujarnya. (Way)