Orang-orang yang Hoki di Tahun 2020

    


Ki Samar, seorang ahli ilmu matematik metafisik dari Purworejo - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Tahun 2020, dalam perhitungan Ki Samar, seorang ahli ilmu matematik metafisik dari Purworejo, yang didasarkan pada pergantian tahun baru Imlek, diawali hari Sabtu Kliwon (25/1). Hari yang memiliki makna alam nyata terendah itu, bertepatan pada posisi Bintang Terang (saat cerah).

Pergantian dari tahun 2019 yang bershio Babi, diartikan Iblis Bumi/Penguasa, menuju tahun 2020 yang bershio Tikus, yang diartikan Dewa Harta/pengusaha.

Tahun 2020, menurut Ki Samar, merupakan dua sisi mata uang. Dan dibalik sisi itu merupakan bershio Kuda, yang berarti Iblis Perang/Nafsu Kemenangan.

“Dalam zodiak Tionghoa, shio Tikus merupakan hewan pertama bertanda positif, yang melambangkan arah Utara. Pengertian umumnya, 2020 adalah waktu baik dan saat tepat dalam mencari rejeki kekayaan, dan memulai usaha Pekerjaan,” ungkap Ki Samar, Kamis (23/1).

Pengertian khususnya, ujar Ki Samar, ada kesempatan dalam merintis suatu proyek skala besar yang visioner jauh ke depan, sekaligus menggali kebangkitan budaya kuno yang spektakuler.

“Bisnis baru banyak bermunculan, dan perang dagang sangat sengit. Peluang besar di depan mata, sekaligus kebuntuan dalam mencari celah kesempatan untuk maju berkembang. Tahun yang sangat dilematis,” kata Ki Samar.

Masing-masing manusia, jelas Ki Samar, mempunyai nasib garis yang berbeda. Dari ramalannya, orang-orang yang beruntung/Hoki di tahun 2020 (peringkat 1 sampai dengan 15), yang lahir pada tahun: 1983, 1959, 1971, 1973, 1972, 1953, 1952, 1982, 2007, 2009, 1961, 1992, 2008, 1960, 1958.

Sedangkan yang nasibnya kurang bagus (peringkat 60 sampai dengan 46), yang lahir: 1954, 1966, 1990, 1978, 2005, 2002, 1974, 1957, 1975, 1986, 1980, 1987, 1955, 2004, 1950.

Akan tetapi, menurut Ki Samar, yang namanya ramalan, tidak ada yang tepat 100 persen. Bisa cocok 70 persen saja, sudah bagus. Apabila bernasib apes atau sial, itu masih bisa disiasati dengan beragam cara.

“Pada prinsipnya, berbijaksanalah dalam mengulurkan tangan menerima rejeki yang datang dan pandai-pandailah dan sigap dalam menolak/membuang hawa negatif yang mendekati,” kata Ki Samar, ayah tiga anak ini.

Dalam hal ini, menurut Ki Samar, hukum karma akan berlaku adil. Siapapun yang berdermawan banyak akan berbalas keberuntungan, sedangkan yang berpelit kebaikan akan menuai halangan/musibah.

“Secara spiritual dan kasepuhan, bisa diartikan lebih dalam ‘Ngabekti Gusti’ dan ‘Ngregani Leluhur’, juga rasa cinta tanah air berbangsa dan bernegara,” pungkas Ki Samar. (Jon)