Oknum Pekerja Groundhandling Selundupkan 17.192 Baby Lobster

    


Oknum pekerja groundhandling Bandara Ngurah Rai, berinisial AP (25), asal Wonogiri, Jawa Tengah, ditangkap petugas Bea Cukai Ngurah Rai - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Oknum pekerja groundhandling Bandara Ngurah Rai, berinisial AP (25), asal Wonogiri, Jawa Tengah, ditangkap petugas Bea Cukai Ngurah Rai. AP mencoba melakukan pengiriman baby lobster sebanyak 17.192 ekor pada Senin, 2 September 2019.

Kepala Kantor Bea Cukai Ngurah Rai Himawan Indarjono menjelaskan, upaya pelaku Digagalkan atas kerjasama petugas Bea Cukai Ngurah Rai, Bea Cukai Kanwil Bali Nusra, dengan Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Denpasar.

“Penindakan atas percobaan eksportasi ilegal ini dilakukan atas informasi dari masyarakat pada pukul 03:00 WITA pagi tadi. Menindaklanjuti informasi tersebut, pemantauan bersama dilakukan oleh petugas gabungan,” jelas Himawan, Senin, 2 September 2019.

Saat dilakukan pemantauan, AP kedapatan mengambil barang larangan dan pembatasan ekspor tersebut, dari truk ke trolly. Kemudian, pelaku hendak memutanya ke pesawat pada pukul 06:00 WITA.

Penggeledahan dilakukan terhadap AP. Petugas menemukan barang bukti sebanyak 19 kantong plastik berisi Baby Lobster jenis pasir sebanyak 16.663 ekor dan 1 (satu) kantong plastik berisi Baby Lobster jenis Mutiara sebanyak 529 ekor, dengan total seluruhnya sebanyak 17.192 ekor.

Barang bukti tersebut disembunyikan AP dalam tas yang disamarkan dengan wadah karton bertuliskan ‘Paper Cup’. Nilai jual atas keseluruhan barang bukti ditaksir sebesar Rp 2.605.250.000.

AP dijerat Pasal 53, Ayat 4, UU 17 tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan yakni, Barang yang dilarang atau dibatasi untuk diimpor atau diekspor, yang tidak diberitahukan atau diberitahukan secara tidak benar, dinyatakan sebagai barang yang dikuasai negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68. Kecuali terhadap barang dimaksud ditetapkan lain berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.

“Saat ini, barang bukti telah diserahterimakan ke Penyidik Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Denpasar untuk ditindaklanjuti,”, ujar Himawan. (*)