Obrolan Koster dengan Pedagang Canang Soal Anaknya yang Kuliah di ISI…

    


I Wayan Koster bercengkrama bersama pedagang di Pasar Kidul Bangli, Sabtu, 24 Maret 2018 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Calon Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster menyempatkan diri blusukan di Pasar Kidul di sela kampanye di Kabupaten Bangli.

Di pasar terbesar di Kabupaten Bangli itu, Koster blusukan melihat tiap sudut pasar. Ia juga mendapat sambutan meriah dari sejumlah pedagang yang memang sudah mengenalinya menyapa dan berswafoto.

Usai berkeliling, Koster menyempatkan diri mampir ke warung kopi sederhana di sudut pasar. Seperti biasa, ia selalu memesan kopi Bali kesukaannya. Kemudian mulai menyantap pisang goreng yang tersedia di warung.

Wayan Wartini, pedagang canang di Pasar Kidul yang membantu rekannya berdagang kopi, kemudian menghampiri kandidat yang diusung PDIP, Hanura, PKB, PAN, PPP dan PKPI tersebut. Ia rupanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Koster yang pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali berpasangan dengan Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) itu.

Perempuan asal Tegallalang, Bangli itu merasa berhutang jasa kepada Koster. Apa sebab? Ya, anak keduanya kini duduk di bangku kuliah Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Ia bisa mengenyam pendidikan tinggi berkat program Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (BIDIK MISI) yang merupakan hasil perjuangan Wayan Koster di DPR RI.

Program BIDIK MISI merupakan bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi, tetapi memiliki potensi akademik. 

“Saya tahu Pak Koster, dari anak saya yang kuliah di ISI, namanya Pande Eka. Anak saya penerima program BIDIK MISI yang merupakan hasil perjuangan Pak Koster,” ungkap Wartini, Sabtu, 24 Maret 2018.

“Anak pertama tidak bisa melanjutkan kuliah, lulus SMA saja sudah bagus, itu pun juga dari beasiswa. Anak kedua saya keinginan kuliahnya keras, meski saya tidak punya uang. Untung ada program BIDIK MISI yang diperjuangkan Pak Koster,” lanjutnya.

Wartini percaya, Koster merupakan sosok yang amat peduli terhadap masyarakat miskin. Jika berkenan, ia meminta bantuan bedah rumah.

“Saya tidak pernah mendapat prioritas bantuan baik itu bedah rumah, raskin maupun lainnya. Saya terima kasih sama Pak Koster, kalau tidak ada beasiswa BIDIK MISI anak saya tidak bisa kuliah,” ujarnya.

Harapan lain datang dari Ketut Suwidnyani asal Banjar Kawan, Kecamatan Bangli. Ia berharap ke depan kabupatennya dapat lebih baik lagi. Ia berpesan kepada Koster agar mampu memperjuangkan pemerataan. Ia juga berharap bantuan permodalan bagi pedagang.

“Kedepannya, biar Bangli lebih baik lagi, pasarnya juga begitu. Rakyat yang punya usaha biar ada bantuan dana untuk pedagang. Biar yang kaya tidak semakin kaya, biar ada pemerataan,” harap Suwidnyani.

Di sisi lain, Wayan Koster bersyukur program yang diperjuangkannya di pusat bisa dinikmati masyarakat Bali. Program BIDIK MISI yang ia perjuangkan memang diperuntukkan bagi mahasiswa miskin berprestasi.

“Semuanya ditanggung biaya pendidikannya. Kan dapat uang kos juga ya? Kalau tidak salah sekitar Rp 550-600 ribu per bulan. Betul dapat ya?” tanya Koster yang dibenarkan oleh Wartini.

Sementara, untuk program bedah rumah, Koster memastikan jika Wartini mendapat bantuan program tersebut jika terpilih kelak.

“Kalau terpilih nanti saya akan prioritaskan, catat alamatnya, saya akan kunjungi rumahnya nanti kalau sudah terpilih sebagai Gubernur Bali,” ujar Koster. (*)