Nuansa Merah Putih Semarakkan Pawai Kuta Sea Sand Land

    


Parade dokar hias yang tampil dalam Festival SKKL 2018 - foto: Ari Wulandari/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Unik dan istimewa, begitu kesan yang ingin ditunjukkan dari Festival Kuta Sea Sand Land (KSSL) kedua ini, Mengapa? Ini karena penyelenggaraannya yang bersamaan dengan HUT Kemerdekaaan RI ke-73 yakni dari 15-19 Agustus 2018.

Festival KSSL ini juga berangkat dari keinginan untuk mengulang sukses penyelenggaraan tahun lalu yang dikunjungi lebih dari 100 ribu pengunjung.

Parade, pawai dan atraksi yang mengangkat seni dan budaya serta adat masyarakat Kuta khususnya, sangat kental dengan nuansa Merah Putih. Inilah yang membuat penyelenggaraan KSSL menjadi berbeda dari tahun sebelumnya. Pengunjung yang didominasi turis asing itupun tak henti-hentinya mengabadikan momen istimewa itu dari ponsel mereka.

Festival KSSL dibuka Bupati Badung, N Giri Prasta, di kawasan Pantai Kuta, Rabu sore (15/8/2018) pukul 17.00 Wita dengan parade 50 Jeep Willis diikuti parade dokar hias, sepeda hias dan diikuti parade puluhan atraksi seni lainnya.

Menurut Ketua LPM Kuta, I Gusti Agung Made Agung, Festival KSSL 2018 ini bertemakan ‘Beauty of Diversity’ dan sudah masuk dalam ‘Badung Soul of Bali’ – even pariwisata yang menjadi agenda tahunan di Dinas Pariwisata Kabupaten Badung.

Dalam presscon di Kuta, sebelumnya Gusti Agung menjelaskan makna dari kata Kuta Sea Sand Land. “Sea itu laut dengan berbagai potensi dan kekayaan alamnya, Sand artinya pasir yang merupakan simbol kebhinnekaan, Land adalah persatuan dan kesatuan karena kita berdiri di atas tanah yang sama, Tanah Air Indonesia,” ujarnya.

Ditambahkan, KSSL diselenggarakan pada momentum yang sangat pas. “Kita selenggarakan pada timing yang tepat yakni bersamaan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-73 tahun ini. KSSL menjadi perekat antar warga masyarakat lokal, warga dari luar Bali bahkan dari warga internasional,” jelasnya.

“Kita ingin mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan dan menghibur mereka dengan atraksi seni dan budaya yang terbaik agar tidak terkesan Kuta monoton. Atraksi dipertontonkan Sekea Truna dari 15 banjar dalam 52 kontingen dengan 1500 orang yang terlibat,” sambung Gusti Agung.

Gusti Agung mengungkapkan pihaknya ingin generasi muda bisa menggantikan kepeloporan tokoh-tokoh seni dan budaya generasi sebelumnya sehingga benar-benar seni dan budaya Bali di Kuta tidak akan pernah luntur digerus budaya luar.

“Kuta perlu figur-figur peduli adat dan budaya yang kita kemas dan tampilkan dalam even berskala internasional. Festival KSSL bakal mengangkat citra pariwisata Kuta dan menempatkannya sebagai destinasi pilihan utama dunia,” tutur Gusti Agung.

Melibatkan 20 UMKM, tahun lalu KSSL berhasil membukukan pendapatan sekitar Rp 2,8 milyar dan target tahun ini diharapkan bisa lebih tinggi lagi. (ari)