#Nostrawmovement, Gerakan Tanpa Sedotan Plastik

    


Hendra Yuniarto (kanan) - foto: Ari Wulandari/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Melalui gerakan #Nostrawmovement, KFC Indonesia mengajak konsumen menolak sedotan plastik sekali pakai. Gerakan #Nostrawmovement dimulai dengan wilayah Jabodetabek pada Mei 2018 dan menjadikan gerakan ini menjadi gerakan nasional.

Sebanyak 630 gerai di seluruh Indonesia tidak menyediakan langsung sedotan plastik dengan menghilangkan dispenser sedotan, kecuali yang sangat membutuhkan.

Pencanangan #Nostrawmovement atau Gerakan Tanpa Sedotan menjadi gerakan nasional KFC dimulai bersamaan dengan peringatan Hari Terumbu Karang 2018 yang dirayakan setiap tanggal 8 Mei dan sehubungan dengan gerakan #beatplasticpollution yang diusung saat Hari Bumi Internasional 22 April 2018 lalu.

”Sejak dilaksanakannya gerakan #Nostrawmovement di KFC di enam gerai pada Mei hingga akhir tahun 2017, lalu meluas ke 233 gerai KFC di wilayah Jabodetabek sejak akhir tahun 2017, pemakaian sedotan plastik secara bertahap mengalami penurunan hingga 45% di setiap gerainya,” ungkap Hendra Yuniarto, General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia, Kamis (1/11/2018), di Kuta.

Ditambahkan, gerakan ini merupakan bentuk komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan. Brand makanan siap saji itu, tidak lagi menyediakan sedotan plastik sekali pakai.

Keprihatinan itu berangkat dari fakta, bahwa sampah sedotan plastik masih menduduki peringkat ke-5 penyumbang sampah plastik terbesar di dunia termasuk Indonesia.

Melihat kondisi tersebut, sejak tahun 2017 lalu telah dicanangkan gerakan #Nostrawmovement, sebagai gerakan nasional. Setahun berjalan, KFC berhasil menurunkan pemakaian sedotan secara bertahap. Sampai akhir tahun ini, ditargetkan penggunaan sedotan akan turun hingga hingga 54% di 630 gerai di seluruh Indonesia.

“Kami berharap dapat semakin mengurangi penggunaan sedotan plastik dan berkontribusi dalam penyelamatan laut Indonesia,” jelasnya.

Hendra Yuniarto tidak khawatir, jika gerakan ini akan berdampak signifikan terhadap tingkat kepuasan dan kenyamanan konsumennya.

“Kami tidak khawatir terhadap kemungkinan dampak penurunan konsumen kami. Justru mereka semakin kritis dan bahkan mendukung upaya bersama dalam penyelamatan lingkungan. Setiap tahunnya sekitar sepertiga biota laut termasuk terumbu karang, dan bahkan burung laut mati karena sampah plastik termasuk sedotan plastik sekali pakai yang berakhir di lautan. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan,” sambungnya.

Sementara itu, Swietenia Puspa Lestari, penggagas Divers Clean Action (DCA) menjelaskan, rata-rata setiap orang menggunakan sedotan sekali pakai sebanyak 1-2 kali setiap hari. Perkiraan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang yang berasal dari restoran, minuman kemasan dan sumber lainnya (packed straw). (ari)