Nila Unggul Hasil Hibrid Jadi Peluang Petambak Masa Depan

    


Petambak/ilustrasi - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Peneliti muda Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Sulawesi Selatan, Dasep Hasbullah, berhasil merekayasa ikan Nila payau hibrid. Ikan hasil hibridasi itu memiliki daya tahan tinggi dan mudah berkembang biak.

Jika dibandingkan dengan nila air tawar yang dibudidayakan di tambak payau, menurut Dasep, nila hibdrid ini memiliki waktu pemeliharaan singkat dan dapat dilakukan berbagai sistem budidaya.

“Bisa dilakukan monokultur maupun polikultur dengan udang atau bandeng, sehingga membantu peningkatan kesuburan dasar tambak,” jelas Dasep.

Benih hasil hibridisasi telah diujicobakan di beberapa tambak di wilayah binaan BPBAP Takalar. Penerapan ikan nila unggul ini sudah menyebar di 12 Kabupaten Kawasan Timur Indonesia. Bahkan sudah dikembangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dasep melanjutkan, ikan nila hasil rekayasa itu dapat dimanfaatkan di tambak yang sudah tidak berproduksi.

“Cara yang lebih menguntungkan dari segi cost dan optimalisasi teknologi dan pengelolaan lahan yang tepat,” tegas Dasep.

Sementara, Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, usaha pembesaran nila air payau hibridisasi di tambak dengan luas 1 hektar, membutuhkan biaya tetap sebesar Rp 4,4 juta untuk sewa tambak, pompa air dan pengadaan sarana produksi. Sedangkan biaya operasional selama 1 siklus (90 hari) sebesar Rp 73,4 juta untuk pembuatan konstruksi tambak, pengadaan pupuk, saponin, benih, pakan, probiotik, bahan bakar dan lainnya.

Nilai kelulushidupan nila payau hibridisasi mencapai 85% dengan padat tebar 50.000 ekor per hektar atau 5 ekor per m2. Dari perhitungan itu, menurut Slamet, mampu memanen sebesar 7.055 kg dengan harga per kg Rp 22 ribu.

“Dari estimasi tersebut maka hasil pendapatan per siklus sebesar Rp 155,3 juta dengan keuntungan bersih Rp 77,5 juta,” jelas Slamet.

Analisis ekonomi menunjukkan bahwa budidaya pembesaran ikan nila payau hibridisasi sangat menguntungkan. Nilai Benefit Cost (B/C) ratio lebih dari 1 dengan Break Event Point (BEP) harga sebesar Rp 11 ribu. Sehingga, akan terjadi titik impas terhadap modal yang dikeluarkan bila harga per satuan mencapai Rp 11 ribu. (Bob)