Nangun Sat Kerthi Loka Bali Benteng Pertahanan Menata Bali

    


Pasangan Cagub-cawagub Bali nomer urut 1 Wayan Koster - Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok-Ace) ketika menghadiri undangan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Provinsi Bali di Sanur Bali, Selasa, 22 Mei 2018 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Banyak pertanyaan yang dilontarkan ketika pasangan Cagub-cawagub nomer urut 1 Koster-Ace bertemu dengan masyarakat. Dari yang sederhana hingga persoalan krusial dan sensitif seperti wacana reklamasi Teluk Benoa.

Pertanyaan itu pun ditujukan untuk Wayan Koster ketika menghadiri undangan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Provinsi Bali di Sanur Bali, Selasa, 22 Mei 2018.

Koster menegaskan, konsep ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ menjadi benteng pertahanan dalam menata Bali. Koster menyebut, meski ada Perpres dan kajian Amdal, itu tidak akan mampu menembus batas kesucian alam dan wilayah yang disucikan yang ada di Bali.

“Teluk Benoa berbenturan dengan konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” jelas Koster yang hadir bersama pasangannya Cawagub Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati.

Koster tidak perlu meminta agar Perpres itu dicabut. Sebab, proyek berjalan atas ijin Gubernur.

“Kalau gubernurnya tidak mengijinkan tidak akan jalan itu, biar ada Perpres, Amdal atau kajian layak dan lainnya. Ini keteguhan sikap saya. Saya akan hadapi itu apapun yang terjadi,” jelasnya.

Ia menegaskan tak ada kompromi dalam membangun Bali, khususnya reklamasi Teluk Benoa.

No compromy. Alam, manusia dan budaya Bali itu terintegrasi, satu kesatuan utuh. Kewenangan salah satunya ada di gubernur. Saya sekala niskala siap ngayah. Saya pertaruhkan sekala-niskala. Bukan hanya Teluk Benoa, tapi Bali keseluruhan saya konservasi, Bali saya jaga,” ujar Koster.

Dialog itu dihadiri sekitar 500 pengurus INTI Provinsi Bali.

“Suatu kehormatan dan kesempatan istimewa karena kami diberi kesempatan memaparkan visi membangun Bali ke depan,” ujar Koster. (*)