Musium Bali Tanpa Kurator

    


Ilustrasi/Wikipedia

KORANJURI.COM – Tidak adanya kurator di musim Bali menjadi pertanyaan Maestro seni Prof. I Made Bandem. Pihaknya berharap pemerintah Provinsi Bali mengangkat seorang kurator seni untuk ditempatkan di Musium Bali.

“Museum Bali sudah memiliki guideance book yang sangat bagus dibandingkan museum lainnya,” ungkapnya belum lama ini di Museum Bali di Denpasar.

Tetapi, lanjutnya, ketika memberikan uraian, satupun koleksi yang dimiliki museum belum pernah diuraikan sesuai fungsi dan maknanya. Ia pun mencontohkan, ada topeng Sidakarya yang di peroleh dari Batuan Gianyar, digunakan untuk seni dalam upacara.

Hanya itu saja saja yang dijelaskan. Padahal, jelasnya, topeng Sidakarya harus diuraikan dari fungsi, guna dan maknanya.

“Dengan diuraikan, maka kita akan tahu bagaimana babad dan makna topeng Sidakarya itu dibuat di Bali. Itulah yang harus diuraikan oleh seorang kurator,” paparnya.

Oleh karena itulah pihaknya mendesak Dinas Kebudayaan Provinsi Bali untuk mengangkat seorang kurator, yang bisa memahami koleksi museum. Sehingga, pengunjung menjadi paham apa saja makna dari koleksi yang dimiliki museum.

“Tidak harus satu orang kurator saja. Mungkin untuk topeng berbeda, kain berbeda, peninggalan artefak juga beda. Sehingga nanti dapat diuraikan makna koleksinya dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Menurutnya, dalam mengangkat seorang kurator, harus orang yang mencintai dan bisa memilih koleksi yang dianggap paling pantas untuk dipresentasikan kepada pengunjung museum.

“Jadi seorang kurator, harus bisa memilih yang kira-kira dianggap pantas. Sehingga tidak semua yang menyumbangkan topeng untuk koleksi kita terima,” katanya.

Kenyataannya, ungkap Bandem, memang ada seperti itu. Sehingga kurator itulah yang nantinya akan memilih. Mana yang berkualitas, mana yang bermutu tinggi, dan kemudian kurator itu yang mendeskripsikan semua benda-benda koleksi museum.

“Kurator itu penting, karena dialah yang akan mendeskripsikan koleksi yang ada,” pungkasnya. (*)