mPLS di SMA Dwijendra Denpasar

    

Pemberian Materi Pengetahuan Hingga Gelaran Tradisi Pawintenan

Made Oka Antara

Made Oka Antara

KORANJURI.COM – Kegiatan mPLS dengan inovasi yang dikembangkan di setiap sekolah menjadi bentuk kreatifitas tersendiri. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau mPLS ini menjadi bagian pra kegiatan belajar mengajar di setiap tahun ajaran baru.

Kegiatan yang dulu bernama masa orientasi siswa itu juga wajib diikuti oleh peserta didik baru. Seperti kegiatan mPLS yang diadakan di SMA Dwijendra Denpasar ini. Pembukaan mPLS dilakukan secara serentak oleh semua sekolah dibawah naungan Yayasan Dwijendra Denpasar, Senin (10/7/2017).

Kepala SMA Dwijendra Denpasar, Made Oka Antara menjelaskan, seperti sebelumnya, mPLS tahun ini dikemas dalam nuansa ceria tanpa disertai aksi-aksi yang memberatkan siswa baru.

“Kami memberikan materi-materi yang berkaitan dengan kegiatan yang mendidik. Siswa tidak dibebani dengan persyaratan yang tidak semestinya dilakukan,” jelas Made Oka Antara, Senin, 10 Juli 2017.

Aktifitas mPLS di SMA Dwijendra lebih banyak diberikan dalam bentuk pemaparan materi dari narasumber yang berkompeten di bidangnya. Made Oka Antara mengatakan, narasumber yang diundang pada mPLS diantaranya adalah kepolisian dalam hal kenakalan remaja maupun penyuluhan kesehatan dari petugas Puskesmas.

“Materi yang ada, kami berikan secara singkat agar siswa tidak bosan. Jadi mereka lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman barunya,” jelas Made Oka Antara.

Selain materi yang bersifat wawasan, untuk siswa Hindu diwajibkan mengikuti upacara Pawintenan. Tradisi yang digelar setiap tahun ajaran baru bagi peserta didik baru itu, bertujuan untuk membersihkan diri dari kekotoran yang melekat pada diri.

Sedangkan secara batiniah, Pawintena menurut Made Oka Antara, bertujuan sebagai sarana pwemohonan penyucian diri kepada Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.

“Dalam belajar di sekolah nanti agar mendapatkan tuntunan, bimbingan dalam mempelajari ilmu pengetahuan,” terang Made Oka Antara.

Pawintenan itu juga mengacu pada hari baik untuk pelaksanaannya dan dikhususkan bagi siswa yang memiliki keyakinan Hindu. “Untuk siswa non Hindu tidak ikut acara itu,” ujar Oka Antara.

Tahun ini, SMA Dwijendra Denpasar menerima peserta didik baru mencapai 400 orang.
 
 
Way