Mitos Atau Fakta, Keris Ngadeg ?

    


Mpu Totok Brojodiningrat yang juga ahli Pawukon - Foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM- Praktek jual beli pusaka keris ngadeg ( berdiri ) sampai detik ini seakan tak pernah rampung di masyarakat. Modus jual beli pusaka dengan nilai transaksi milyaran rupiah di jadikan modus oleh sebagian orang untuk menipu. Ramainya praktek jual beli keris ngadeg dan benda benda ghaib tersiar era akhir tahun 1990-an. Saat itu banyak orang berburu batu merah delima, besi kuning, cungpet, jenglot, keris ngadeg dan segepok pusaka yang di percaya mampu menjadikan pemegangnya kebal (anti gores).

Mereka meyakini dengan pusaka yang membuat seseorang kebal, pusaka tersebut bisa di jadikan alat untuk menarik uang dari dalam alam ghaib. Modus seperti ini membuat orang tergiur akibat angan angan memperoleh uang milyaran rupiah dari jasa mediator (makelar). Pembagian keuntungan antara pihak penjual dengan pembeli yang disisihkan untuk para mediator dibagi dengan cara sigar semangka (50%:50%).

Awal mula orang tertarik serta masuk kedalam jaringan, biasanya lebih dulu diawali rasa penasaran keinginantahuannya membuktikan kebenaran keampuhan pusaka yang dicari. Jika ternyata memang benar ada dan terbukti kesaktianya, maka ia akan memperoleh komisi duit milyaran rupiah dari transaksi jual beli pembagian ‘sigar semangka’.

Hal ini tanpa disadari membuat orang terjerat masuk kedalam sindikat praktek jual beli benda-benda gaib, karena angan-angan mendapatkan uang milyaran rupiah. Angan-angan ini tidak hanya membutakan mata, tetapi juga membalikkan logika nalar seseorang.

Ia akan rela mengeluarkan duit untuk biaya transportasi, memberi pesangon ataupun gambling kepada para mediator yang menariknya masuk kedalam jaringan hanya untuk membuktikan keberadaan benda pusaka yang ditransaksikan.

Diakui oleh banyak kalangan jika benda benda ghaib tersebut diyakini memang ada. Tetapi tidak semua orang memilikinya, apalagi diperjualbelikan. Jikalau ada pembelinya, penjualnya tidak ada, begitupun sebaliknya. Jikalau ada barangnya, tidak ada uang pembayar untuk membuktikan kebenaran keberadaan dan keampuhanya.

Keterangan foto: Mpu Totok Brojodiningrat tengah memegang keris sepuh tangguh kahuripan yang di perkirakan di buat pada tahun 1042/ Foto: koranjuri.com

Keterangan foto: Mpu Totok Brojodiningrat tengah memegang keris sepuh tangguh kahuripan yang di perkirakan di buat pada tahun 1042/ Foto: koranjuri.com

Dijelaskan oleh Mpu Totok Brojodiningrat, pemilik padepokan keris Brojodiningrat sekaligus pakar pawukon dan budaya Jawa terkait dengan keberadaan keris ngadeg mitos atau fakta?

“Keris ngadeg di atas kaca adalah urusan perut yang diolah sedemikian rupa untuk modus penipuan sekaligus pembodohan masyarakat terhadap sebuah nilai mahakarya leluhur Nusantara,” Kata Mpu Brojodiningrat.

Perilaku seperti itu tidak hanya merusak sendi sendi budaya warisan dunia yang diakui oleh UNESCO, tetapi juga sangat menyesatkan. Secara logika, keris memang dapat berdiri karena keseimbanganya diproses sedemikian rupa sampai pada titik keseimbangan nol saat besi ditempa. Tetapi berdiri bukan berarti ngadeg dengan ujung bilah yang tipis tanpa adanya tumpuan.

Keris yang dapat berdiri harus dibantu dengan warangkanya karena memang demikian dibuat oleh Mpu dan tukang warangka. Oleh karena itu tidak semua tukang warangka bisa menjadi patner bagi seorang mpu pada saat membabar keris pusaka.

Modus para sindikat biasanya menggunakan peralatan gimik (alat alat sulap) agar keris mampu berdiri di atas kaca berjam jam. Sama halnya paranormal yang mengaku bisa menarik pusaka dengan segepok ubarampe dan minyak yang tidak ada di pasaran.

Itu hanya modus agar minyak yang di sediakan paranormal laku di jual dengan harga jutaan rupiah. Praktek penyesatan budaya saat ini tidak hanya merebak dan meresahkan masyarakat, tetapi juga telah membelokan nilai nilai budaya asli Nusantara.

Budaya yang seharusnya memiliki nilai nilai luhur Ketuhanan, bermasyarakat dan berbudi pekerti dirusak oleh urusan perut. Sebagai seorang tokoh perkerisan Nusantara, bebarapa kali Mpu Brojodiningrat pernah mengungkap praktek paranormal abal-abal yang menarik benda pusaka. Hal itu dilakukan karena keprihatinannya terhadap para korban dan juga penyesatan logika penalaran melalui budaya.

Mpu Brojodiningrat memastikan, jika seluruh benda-benda pusaka yang ditarik pastilah benda murahan yang dijual borongan di pasaran untuk praktek abal abal.

“Bukan benda pusaka yang memiliki nilai histori sejarah dan kekunoanya,” urainya.

Keris adalah karya seorang Mpu yang dibuat melalui proses panjang spiritual dan mahakarya seni budaya. Sebab itu, tidak semua orang bisa membuat dan memiliki keris pusaka secara asal-asalan. Keris pusaka harus cocok dengan karakter pemiliknya yang dihitung melalui perhitungan astrologi Jawa atau Pawukon.

Ia mencontohkan, seorang petani dan pedagang tidak mungkin cocok dengan keris Pasupati yang memiliki aura keras atau pandawa cinarita yang di peruntukan bagi para dalang.

Keris Pasupati cocok dimiliki pejabat, tentara dan sebuah profesi yang butuh kewibawaan dan kehormatan. Dahulu kala Pasupati kerap di pakai para senopati perang, karena seseorang yang menghunus Pasupati di Palagan. Karena sebab itu,filososfi jawa ‘Jaya Pralaya‘ adalah pegangan para senopati perang jaman dulu.

“Di dalam peperangan hanya ada dua pilihan, menang atau mati, bukan menang atau kalah,” terang Mpu Brojodiningrat.

Secara kerohanian sedikit banyak pusaka keris akan mempengaruhi karakter pemiliknya. Banyak istilah diartikan, ketika seseorang kerap mengalami musibah karena memegang sebuah pusaka, diartikan, penunggunya tidak cocok dengan pemiliknya. Pemahaman seperti itu, menurutnya keliru.

Ketidakcocokan pusaka dengan pemiliknya dikarenakan unsur besi yang dipakai untuk membuat keris berbeda karakter dengan watak seseorang yang mengembannya.

Besi keris dibagi menjadi empat unsur alam yakni, air, api, tanah dan angin. Keempatnya juga melambangkan sifat aluamah, mutmainah, sofiah dan amarah yang ada di dalam diri manusia. Keempat unsur ini memliki karakter masing masing pada saat disatukan ditempa menjadi keris pusaka.

Keris adalah unsur alam yang menyatu dalam bilah keris pusaka, manusia perwujudan jagad alit. Sinkronisasi keduanya harus sinergi agar tidak terjadi penolakan yang mengakibatkan kerusakan.

Ditambahkan oleh Mpu Totok Brojodiningrat, tak dipungkiri keris pusaka memang bisa bergerak sendiri berputar di atas poros penopangnya. Hal itu pernah dibuktikan dengan mata kepalanya sendiri saat eyangnya yang juga seorang Mpu keris merapal sebuah mantram kemudian menghendaki keris berputar.

Dijelaskan jika semua benda yang ada di bumi diciptakan oleh Tuhan masing masing memiliki nama, tak terkecuali besi. Dan semua benda tetntunya memiliki raja atau unggulan, jika nama raja besi disebut dalam sebuah mantram, maka benda tersebut seakan hidup dapat bergerak. Itupun tidak berdiri, tetapi harus diletakkan di atas kendil yang menopangnya.

Unsur besi dalam keris tidak hanya mempengaruhi pemiliknya, tetapi juga dapat mempengaruhi kondisi alam di sekitarnya. Keris singir geni, diakui memang ada dan diciptakan untuk menyingkirkan geni. Kekuatan di dalam keris bukan berarti ada jin atau mahkluk halus yang memadamkan api, tetapi unsur alam di dalam bilah keris secara metafisik memiliki kekuatan untuk memadamkan api.

Seseorang yang membuat keris lebih dulu harus mengetahui tiga unsur dasar untuk siapa, apa dan kapan?.

Keris buda atau jalak bethok, dibuat pada masa jaman buda. Keris tersebut saat ini banyak dimiliki oleh para pejabat, kolektor keris dan orang orang berduit di Jakarta. Ratusan keris buda banyak tersimpan di ibukota dijadikan sebagai tindih (sesepuh seluruh pusaka) oleh para kolektor untuk meredam energy panas aura puluhan keris yang disimpannya.

Membuka sejarah peradaban masa silam, sebagai negara agraris, keris Buda dibuat sebenarnya untuk menarik hujan turun ke bumi agar intensitasnya tinggi di wilayah agraris. Keris Buda dibuat dari berbagai campuran unsur besi yang memiliki sifat dingin. Sehingga, energinya mampu membuat alam di sekitarnya menjadi lembab. Kejadian seperti ini menyebabkan sebuah wilayah jika menyimpan banyak keris Buda maka secara otomatis intensitas hujanya akan menjadi tinggi.

“Teori budaya ini oleh Mpu Brojodiningrat diungkapkan sebagai contoh kenapa sampai saat ini Jakarta belum terbebas dari bajir serta memiliki intensitas hujan yang relative sangat tinggi,” jelasnya. (Djoko Judiantoro)