Minyak Tumpah di Teluk Balikpapan, Wamen ESDM: Pipa Layak Operasi

    


Foto: Ilustrasi/greeners.co

KORANJURI.COM – Dalam rapat dengar pendapat Komisi VII DPR RI, Senin (16/4/2018) kemarin, Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, menjelaskan terkait tumpahan minyak yang terjadi di Teluk Balikpapan, 31 Maret 2018 lalu.

Arcandra menegaskan, kondisi pipa yang putus di Teluk Balikpapan sesuai standar dan spesifikasi teknis. Sehingga dalam keadaan layak operasi saat kejadian.

Ditambahkan Arcandra, di daerah putusnya pipa di Teluk Balikpapan telah ditetapkan sebagai Daerah terbatas Terlarang (DTT) sesuai dengan UU nomor 1 Tahun 1973 yang melarang baik kapal atau sejenisnya membuang atau membongkar jangkar.

“Instalasi Kilang RU V termasuk pipa penyalur minyak diameter 20 inch dan ditetapkan sebagai Obyek Vital Nasional (Obvitnas). Semua orang, kapal dan sejenisnya dilarang melewatinya”, Jelas Arcandra dalam Raker DPR Komisi VII yang juga dihadiri oleh Kementerian LHK, Dirjen Perhubungan Laut dan Bareskrim POLRI.

Pipa Pertamina yang putus memiliki ukuran 20 inch dengan ketebalan pipa 11,9 mm sepanjang 3.600 m dan terbuat dari bahan carbon steel pipe API 5L Grade X42.

Kekuatan pipa terhadap tekanan diukur dari maximum allowable operating pressure (MAOP) adalah 1.061,42 psig. Sementara, operating pressure yang terjadi pada pipa masih di bawah yakni, hanya mencapai 170,67 psig.

Dari hasil penyelidikan, tumpahan minyak tersebut, berasal dari pipa milik PT Pertamina yang menyalurkan minyak mentah atau crude oil dari terminal Lawe-Lawe/PPU ke kilang RU V Balikpapan.

Pipa tersebut berada di bawah laut dengan kedalaman sekitar 26 meter. Pipa mengalami patah dan bergeser hingga 100 meter dari posisi semula. Hal itu diketahui setelah Pertamina melakukan pemeriksaan dengan melakukan penyelaman dan site scan sonar. (*)