Merupa Wayang Gaya Kamasan

    


Proses pewarnaan pada lukisan wayang gaya Kamasan - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Lukisan wayang di desa Kamasan, Klungkung, Bali, bukan saja jadi industri kerajinan seni. Namun, melukis bagi warga disitu sudah menjadi tradisi tua yang masih lestari sampai sekarang. Warna lukisannya bercorak terang dengan warna tajam, serta mengambil cerita dari kisah pewayangan. Karena itulah, mereka dikenal sebagai pelukis wayang.

I Nyoman Mandra menjadi salah satu penekun tradisi di desa itu. Menurutnya, dengan melukis wayang berarti mengamalkan ajaran dan petuah yang ada dalam kisah pewayangan, terutama ajaran budi pekerti dari Mahabarata dan Ramayana. Disamping itu, wilayah Desa Kamasan yang diyakini sebagai cikal bakal raja diraja Bali, juga dianggap sebagai pusat kesenian masa lalu.

“Kami semua disini mewarisi bakat seni dari nenek moyang. Seni lukis wayang ini ada sejak jaman kerajaan dulu. Dan hingga kini masih bertahan dan lestari. Bahkan, saat ini gaya lukisan wayang Kamasan paling diminati kolektor karena warnanya yang ngejreng dan berani,” jelas Mandra yang sudah banyak mendapatkan penghargaan.

Lukisan wayang disitu merupakan kerajinan seni sekaligus menjadi seni kerajinan yang berorientasi kepada industri. Karena ada beberapa orang yang berperan membuat sketsa, kemudian diwarnai oleh orang lain yang kerjanya bersifat kolektif. Dari situlah, menurut Mandra, kalau profesi pelukis wayang masih bertahan sampai sekarang, itu dikarenakan sudah berkembang ke seni pewarnaan dari produk kerajinan. Artinya, yang dibutuhkan disitu adalah ketelatenan dan kejelian menguas sketsa cerita pewayangan yang sudah dibuat oleh seorang seniman, dengan obyek lukisannya sudah tersedia.

Disamping itu, lukisan wayang disitu berupa gambaran kehidupan diatas selembar kanvas yang menceritakan sesuatu. Jadi, bukan melukis karakter tokoh pewayangan seperti yang ada pada kerajinan wayang kulit.

“Di Bali sendiri ada beberapa gaya melukis wayang, diantaranya, gaya Kerambitan yang ada di Tabanan, gaya Naga Sepa atau gaya Singaraja dan gaya Kamasan. Meskipun sumber ceritanya sama, tapi gaya pewarnaannya berbeda,” jelas Nyoman Mandra.

Gaya Kamasan sendiri cukup terkenal dengan warna cerah seperti, biru, merah dan kuning dengan perpaduan gradasi yang cukup memikat. Kalau dilihat dari bentuk, menurut Mandra, lukisan wayang Kamasan memiliki alur dua dimensi dengan posisi miring dan dua mata. Satu mata tampak jelas memandang, sedangkan satunya lagi, tatapannya dilukiskan dengan posisi miring.

Lukisan wayang di Desa Kamasan, Klungkung, Bali, merupakan kerajinan seni sekaligus menjadi seni kerajinan yang berorientasi kepada industri. Karena ada beberapa orang yang berperan membuat sketsa, kemudian diwarnai oleh orang lain yang kerjanya bersifat kolektif - foto: Koranjuri.com

Lukisan wayang di Desa Kamasan, Klungkung, Bali, merupakan kerajinan seni sekaligus menjadi seni kerajinan yang berorientasi kepada industri. Karena ada beberapa orang yang berperan membuat sketsa, kemudian diwarnai oleh orang lain yang kerjanya bersifat kolektif – foto: Koranjuri.com

Kelas lukisan disitu dibagi menjadi tiga jenis, kasar, sedang dan halus. Karena ada pembedaan, tentu saja, cara pengerjaan, material yang digunakan serta harganya juga berbeda. Jika diukur dengan nilai rupiah, lukisan yang masuk kelas kasar kisaran harganya puluhan hingga ratusan ribu. Sedangkan kelas sedang bisa lebih mahal, rata-rata untuk ukuran dua meter sampai Rp 2 juta.

Sementara kelas yang paling tinggi, tingkat halus, pengerjaannya dilakukan secara cermat dan detail. Material yang digunakan untuk melukis juga berbeda. Untuk pewarnaan digunakan tinta tahan usia bahkan jenis tinta impor. Karena itu, harganya bisa berlipat-lipat dibandingkan lukisan dengan kelas yang lain.

“Lukisan halus biasanya dijadikan koleksi oleh para kolektor, seperti kurator seni atau pejabat yang memang suka mengoleksi lukisan. Ukuran dua meter harganya bisa Rp 10 juta-Rp12 juta,” ungkap Nyoman Mandra yang kini usianya menginjak 70 tahun.

Biasanya, untuk tingkatan kolektor seperti itu, pria sepuh ini yang mengerjakan sendiri lukisannya, mulai dari, membuat ide cerita, membuat sketsa sampai pewarnaannya. Meski sudah lewat enam dasawarsa dirinya menjadi pelukis wayang, namun Nyoman Mandra mengaku, tetap mengalami kendala saat mengekspresikan idenya.

Terutama, ketika membuat sketsa tokoh sesuai dengan jalan cerita akan dibuatnya. Itu, menurutnya, memerlukan konsentrasi agar gerak tubuh si tokoh pewayangan sesuai dengan jalan kisahnya. Seperti yang terlihat, ia berkali-kali harus menghapus coretan dan mengulangi lagi sampai benar-benar menjadi karakter seperti yang diinginkan.

Bahan Alami