Menyusur Pura Tua di Ujung Kintamani

    


Pura Puncak Penulisan - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pura Puncak Penulisan terletak diatas bukit atau sekitar 3 kilometer dari kawasan wisata Kintamani. Untuk masuk ke dalam Pura, pengunjung harus melewati tiga lapis undakan dengan anak tangga berjumlah ratusan buah.

Memang butuh perjuangan berat. Tapi setidaknya, ketika telah sampai diatas, hamparan pemandangan yang cukup indah terpampang di depan mata. Disitu terdapat Gunung Batur yang masih aktif dengan bekas lahar menghitam dan danau batur yang membiru.

Selain sebagai tempat suci yang disakralkan, Pura Puncak Penulisan memang kerap disinggahi orang-orang. Tak sebatas orang Bali, tapi juga wisatawan yang berkunjung ke Bali, baik lokal maupun mancanegara.

Tempat suci ini memiliki banyak sebutan. Ada yang menamakan Pura Panarajon, ada pula menamai Pura Tegeh Koripan. Namun, karena letaknya di Bukit Panulisan, orang-orang pun kebanyakan menyebut Pura Pucak Panulisan.

”Ada yang menyebutnya dengan Pura Ukir Padelengan. Di dalam areal pura memang tidak banyak ditemukan piranti-piranti upacara seperti di pura lain. Tapi, bagi kami disini pura ini sangat berarti karena merupakan peninggalan leluhur,” terang Wayan Jasa, warga setempat.

Menilik lokasi pura di atas bukit yang berteras piramida ini, ditambah dengan peninggalan megalitik yang ada, diduga kuat memang sudah dari dulu tempat suci ini dijadikan tempat pemujaan bagi warga desa Bali Aga di Kintamani, dan terutama lagi, sebagai tempat pemujaan raja-raja Bali kuno. Ini dibuktikan dengan arca-arca perwujudan, seperti Arca Bhatari Mandul.

“Ada beragam cerita terkait keberadaan Pura Pucak Panulisan. Tapi saya sendiri belum mendapatkan kepastian mana yang benar,” terang Wayan Jasa.

Wayan Jasa menambahkan, Pura ini memiliki wewenang spiritual paling tinggi yang dijabat oleh orang yang dinamakan Jero Kubayan. Termasuk saat berlangsung upacara besar, tak mempergunakan pandita layaknya di beberapa pura besar lainnya yang ada di Bali.

Khusus di Pura Pucak Panulisan, menurut Jasa, ada dua Kubayan, yakni Kubayan Kiwa dan Kubayan Mucuk. Keduanya bertugas mengantarkan sesajian. Jero Kubayan ini memiliki senjata berwujud golok yang dipergunakan sebagai alat pemotong waktu digelar upacara.

“Saat menghaturkan bakti mempergunakan mantra, dinamakan Pujasana. Sedangkan, senjata golok disini sedikit berbeda dengan yang biasa digunakan berupa pisau. Semua yang ditinggalkan kepada kami merupakan budaya dan tradisi yang tidak mungkin diubah,” jelas Wayan Jasa.

Menariknya dari Pura Puncak Penulisan ini diantaranya, setiap warga Hindu Bali yang lewat pasti akan singgah untuk memberikan canang atau sesembahan. Dipercaya, sesembahan yang diberikan akan membawa keselamatan bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan. seperti diketahui, Pura Puncak Penulisan ini terletak persis di persimpangan antara kabupaten Bangli dan Kabupaten Buleleng.

Umumnya, peziarah yang berkunjung kesana karena kebetulan lewat dan sudah seharusnya singgah sementara untuk bersembahyang sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Jamak pula terlihat, para penjual canang seukuran satu tangkup menawarkan kepada orang yang berniat untuk melakukan sembahyang.

Satu lagi, bagi siapa saja yang berkunjung ke Pura Puncak Penulisan diharuskan mengenakan kain dan harus diperciki air suci.

“Tirta atau air suci itu berfungsi untuk mentralisir jika ada umat atau pengunjung yang sebelumnya makan daging sapi. Disini sangat dilarang makanan yang berbau daging sapi. Sapi, bagi kami adalah hewan suci yang disakralkan,” terang Wayan Jasa.

Hits: 32