Menyulap Besi Bekas Roda Pedati Menjadi Keris

    


Proses tempa yang dilakukan pada pembuatan keris. Proses ini membutuhkan puluhan ribu kali penempaan sampai semua material besi tersampur dengan sempurna - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pande Ketut Nala dari Banjar Babakan, Desa Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, membuat keris dengan menggunakan besi bekas sebagai campuran utamanya. Hasil karyanya itu biasa digunakan orang untuk kesenangan atau koleksi pribadi.

“Kami biasanya tidak menghargai nilai keris jika itu untuk kepentingan ritual atau untuk pejenengan atau keris pusaka. Tidak ada patokan harga. Meski begitu, pemesan tetap menghargai keris tapi mengenai jumlahnya tidak saya patok. Disamping itu, baik keris untuk pusaka maupun keris perhiasan, semua bahannya dari besi,” ujar Pande Ketut Nala.

Ia memiliki alasan tersendiri mengapa tidak membuat keris dari material logam yang umum digunakan sebagai bahan pembuat keris. Menurutnya, fungsi dari pejenengan adalah kesakralan dari keris yang ada. Jadi, material logam atau bahan baku tidak terlalu penting. Namun begitu, bukan berarti hasil karyanya asal-asalan. Sebagai punggawa keris, Pande Ketut Nala cukup teliti dalam proses pembuatan keris. Ia mengawali dengan mencampurkan logam besi, nikel dan baja yang digembleng sampai rekat menyatu.

Proses selanjutnya, tiga campuran logam itu dilipat berlawanan arah atau dengan cara dipotong di bagian tengah kemudian dilipat dan ditempa lagi. Kebutuhan nikel disini, menurut Nala, diperlukan untuk merekatkan besi dan baja. Sedangkan campuran logam baja digunakan agar nantinya keris bisa menjadi tajam. Tanpa baja, dikatakan, keris tidak akan bisa tajam.

Satu lagi, menurut pria dari keluarga Pande di Bali ini, besi yang ia pilih bukan besi biasa. Sekalipun, diakuinya besi itu dicarinya dari rongsokan roda pedati. Berarti, bahannya memang dari besi bekas. Tapi ketika sudah menjadi keris, ia berani menjamin, kualitas keris buatannya cukup bagus.

“Besi yang kami pakai itu disebut besi tabuan dan besi pancer bumi. Kedua besi jika ditempa akan mudah pecah, tapi menurut saya justru itu yang bagus. Kalau tidak retak berarti tidak bisa tercampur maksimal dengan nikel dan baja. Sementara, kalau pakai besi biasa pekerjaan jadi sangat sulit karena tidak pernah mau rekat biarpun sudah ditempa ribuan kali,” jelasnya.

Menurut Nala, velg roda pedati umumnya dibuat dari besi yang getas atau mudah pecah. Itu yang disebut dengan besi pancer bumi. Besi seperti itu di Bali justru sangat sulit didapat. Untuk mendapatkan bahan bakunya, Pande Ketut Nala harus mendatangkan besi yang demikian dari pulau Jawa.

Namun sebaliknya, bahan baku lain yang disebut besi tabuhan mudah ditemukan di pulau dewata. Besi tabuhan itu bunyinya sangat nyaring. Jadi sangat pas kalau dipadukan untuk membuat senjata keris.

“Besi tabuhan biasa digunakan untuk membuat gamelan. Kalau di bali besi jenis itu banyak, jadi saya tidak perlu mendatangkan dari tempat lain,” terang Pande Ketut Nala.

Keris untuk Ngurek