Menilik Nilai Pendidikan Keluarga Dalam Naskah Mangkunegara IV

    


Seminar hasil kajian nilai pendidikan keluarga dalam naskah keagamaan karya Mnagkunegara IV - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Keluarga menjadi tempat pertama pembentukan karakter bagi perkembangan anak, baik dalam pembangunan perilaku keseharian maupun pembentukan norma norma budi pekerti di dalam dirinya.

Oleh karena itu, pendidikan di dalam keluarga sejak dini harus diterapkan agar keluarga kuat dan bahagia.

Pendidikan dalam keluarga tidak hanya di ambil dari sumber agama, namun dalam manuskrip kuna juga banyak sekali nilai nilai pendidikan keluarga.

Salah satunya, pada naskah manuskrip 104 karya Mangkunegara IV yang berisi dua belas naskah di perpustakaan Reksa Pustaka.

Diantaranya Serat Warayagnya, Salokantara, Tripama, Sriyatna, Salokatama, Pralambang Rara Kenya, Paliatma, Pariwara, Manohara, Wirawiyata, Nayakawara dan Serat Darmawasita.

“Naskah tersebut berupa naskah carik dan di salin tahun 1911 M,“ jelas Umi Masfiah, salah satu peneliti yang menyajikan hasil penelitian nilai pendidikan keluarga dalam naskah keagamaan karya Mangkunegara IV dari Balai Litbang Agama (BLA) Semarang.

Alasan diambilnya nilai pendidikan keluarga dari manuskrip, karena banyak isi piwulang luhur terdapat dalam karya sastra.

Salah satunya sesanti (semboyan) Tri Darma dari Mangkunegara I yaitu, Rumangsa bisa melu handarbane (merasa mampu ikut memiliki). Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan) dan Mulat sarira hangrasawani (Mawas diri dan berani bertanggung jawab).

Sementara, Darweni, M.Hum, pengelola perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran yang didaulat menjadi narasumber bersama Prof. Suwardi Endraswara pada hasil kajian naskah karya MN IV menyampaikan, penggunaan tembang dalam karya sastra sebagai piwulang agar mudah dihafalkan oleh generasi berikutnya.

Pemakaian tembang dalam piwulang luhur juga tidak menyinggung orang lain. Oleh sebab itu sastra pitutur dalam manuskrip MN IV masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Salah satunya bagaimana cara memilih jodoh dengan filosofi bibit, bobot, bebet,” terangnya.

Bibit adalah keturunan. Bobot diartikan intelektual yang dimiliki oleh seseorang. Sedangkan Bebet diartikan sebagai tingkatkan ekonomi.

Prof. Suwardi Endraswara, pengajar dari Universitas Negeri Jogjakarta menyampaikan apresiasinya kepada Balai Litbang Agama Semarang yang telah meneliti naskah karya Mangkunegara IV sebagai sumber nilai pendidikan dalam keluarga.

“Konsep yang dibangun dalam pendidikan keluarga pada naskah karya Mangkunegara IV esensinya tentang Asah, Asih dan Asuh. Melalui sastra pitutur MN IV pada dasarnya ingin menanamkan ilmu Slamet,” jelasnya.

Seperti halnya konsep wilujengan atau slametan, esensinya dari nilai slamet agar keluarga tidak cures (kehabisan keturunan).

Konsep tersebut ada pada 3N, Neton, Netah dan Nggladhi.
Neton, eling atau mengingatkan. Netah, Nggladhi atau menuntun dan Natah, mencerdaskan pola pikir anak.

“Begitu pun konsep keluhuran yang lain banyak di sampaikan oleh Mangkunegara IV dalam karya karya Sastra nya,” ujarnya. (JK)