Menikmati Fenomena Letusan Anak Krakatau dari Tempat Aman

    


Gunung Anak Krakatau muncul dari permukaan laut di tahun 1927. Rata-rata tambah tinggi 4-6 meter per tahun - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Selama 24 jam pada Rabu (11/7/2018) pukul 00.00-24.00 Wib, Gunung Anak Krakatau meletus 56 kali. Letusan disertai lontaran abu vulkanik, pasir dan suara dentuman.

Secara visual pada malam hari teramati sinar api dan guguran lava pijar. Sebelumnya, pada Selasa (10/7/2018), Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 99 kali, dengan amplitudo 18-54 mm dan durasi letusan 20-102 detik.
Letusan disertai suara dentuman menyebabkan kaca pos pengamatan gunung bergetar.

Letusan anak Krakatau berlangsung sejak tanggal 18 Juni 2018 dan mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Namun demikian status Gunung Anak Krakatau tetap Waspada (level 2). Tidak ada peningkatan status gunung. 

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menghimbau untuk masyarakat agar tetap tenang. BPBD Provinsi Banten, BPBD Provinsi Lampung, PVMBG dan BKSDA telah melakukan langkah antisipasi.

Letusan Gunung Anak Krakatau - foto: Istimewa

Letusan Gunung Anak Krakatau – foto: Istimewa

“Yang penting masyarakat mematuhi rekomendasi tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dari puncak kawah. Di luar itu aman. Justru dapat menikmati fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau dari tempat aman,” jelas Sutopo, Kamis, 12 Juli 2018.

Gunung anak Krakatau masih aktif untuk tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi. Gunung Anak Krakatau ini muncul dari permukaan laut di tahun 1927. Rata-rata tambah tinggi 4-6 meter per tahun.

Energi erupsi yang dikeluarkan juga tidak besar. BNPB menyebutkan, peluang letusan anak Krakatau sangat kecil, tidak seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883.

“Bahkan beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini. Jadi tidak perlu dikhawatirkan,” tambah Sutopo. (*)