Menguak Misteri Tangguh Keris Nagasasra Sabuk Inten

    


Mpu Totok Brojodiningrat - foto: Besalen Brojodiningrat/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Keris tidak hanya mahakarya agung para leluhur Nusantara, tetapi banyak makna luhur di dalam keris yang sarat nilai kemanunggalan kawula kelawan Gusti. Di dalam manuskrip kuno tentang keris dalam Serat Centhini, Mpu Ngeksiganda mengungkapkan dawuh dari Kanjeng Sunan Kalijaga, agar memuliakan keris untuk mengetahui makna arti dan rahasianya

Dalam manuskrip tersebut bagian keris yang dianggap paling luhur yaitu Ganja, pangkal keris di bagian atas pesi (pegangan keris), sebagai perlambang antara Tuhan dengan hambanya. Keduanya sebenarnya satu wujud, meskipun dikatakan dua tetapi bagaimanapun tetap satu.

Sirah cecak memiliki makna Betal Makmur, kepala manusia, sebagai tempat keramaian keluar masuknya seluruh ingatan manusia.

Tikel Alis, maknanya nafsu tiga hal, sabar, maklum dan nafsunya hati, suci dan selamat. Lambe gajah, memiliki makna lisan kita sebagai insan kamil. Alat komunikasi kepada Allah yang bersifat rupa sebenarnya yakni, sabda Kunfaya kun.

“Selain makna tersebut di atas, masih banyak makna luhur lainnya di dalam ricikan keris,” jelas Mpu Totok Brojodiningrat.

Keris kata dia, tidak hanya sebagai simbol kewibawaan, tetapi diyakini juga memiliki kekuatan dahsyat, seperti halnya keris Nagasasra Sabuk Inten.

Keris yang dibabar atas perintah Kanjeng Sunan Kalijaga itu diyakini, siapapun mereka yang bisa memiliki akan menjadi raja.

keterangan fot: prosesi membuat keris oleh para mpu/foto: koranjuri

keterangan fot: prosesi membuat keris oleh para mpu/foto: koranjuri

Keris Nagasasra konon dibuat sebagai simbol, bahwa kekalahan Majapahit oleh Demak Bintara bukan berarti menyerah kalah, masih ada kekuatan lain dari para bangsawan di luar pulau Jawa dan kerajan kerajaan lain diluar Nusantara sekutu Majapahit yang memiliki kekuatan perang mampu menggempur Demak Bintara.

Kekuatan kekuatan tersebut di simbolkan dalam bentuk keris Nagasasra berikat intan. Banyak kisah menceritakan keampuhan Keris Nagasasra Sabuk Inten yang selama ini di yakini di buat era Majapahit. Begitupun para Mpu dan pemerhati keris lainya, juga menyatakan hal sama. Keris Nagasasra Sabuk intan memiliki tangguh Majapahit.

Pun demikian tidak dengan Mpu Totok Brojodiningrat, ahli pawukon dan filsafat Jawa yang juga Mpu Keris Padepokan Brojodiningrat. Menurutnya, Keris Nagasasra Sabuk Inten berdasarkan manuskrip kuna yang ditulis dalam bentuk tembang macapat di jelaskan, dibuat pada jaman kerajaan Demak Bintara.

Runtuhnya Majapahit oleh Demak yang ditandai dengan sengkalan sirna ilang kertaning bumi, menjadi awal peralihan Majapahit ke Demak Bintara. Peralihan zaman tersebut merupakan babak baru lahirnya tangguh Demak Bintara.

Peralihan Majapahit ke Demak tidak hanya pusat pemerintahan kerajaanya saja, tetapi para Mpu Mpu Majapahit juga turut di boyong ke Demak Bintara. Tak terkecuali Mpu Supa yang merupakan adik ipar Kanjeng Sunan Kalijaga.

Oleh sebab itu, tidaklah aneh jika tangguh Demak dengan tangguh Majapahit dikatakan sama persis tidak ada bedanya.

“Karena Mpu pembuatnya berasal dari Majapahit semua,” jelas Mpu Totok Brojodiningrat.

Dalam suluk Tembangraras dan Suluk Pangeran Wijil Kadilangu III di terangkan, Keris Nagasasra dapur Buto Ijo, Sabuk inten, Sepokan, Anoman, Panimbang, Njaruman, di buat sekitar tahun 1380 S oleh Mpu Domas.

Selama ini sebut Mpu Totok Brojodiningrat, keris Nagasasra selalu diasumsikan dibuat pada era Majapahit, karena kerap diceritakan di dalam buku buku cerita fiksi.

Namun jelasnya, jika merunut pada naskah naskah kuna didalam suluk tembangraras dan naskah Pangeran Wijil Kadilangu III secara jelas dikatakan, Keris Nagasasra dibabar oleh Mpu Domas di era Pemerintahan Syech Akbar atau Raden Patah.

Perbedaan keris Majapahit dengan Demak kata Mpu Totok Brojodiningrat hampir tidak ada, karena di dalam pupuh Maskumambang disebutkan, Keris tangguh Demak dan Majapahit hampir tidak ada perbedaannya.

“Seluruh ricikan, tintingan dan seblaknya sama persis dengan tangguh Majapahit. Tidak hanya asal ditangguh berdasarkan ciri di dalam ricikan, tetapi juga harus merunut ke dalam fitroh manuskrip manuskrip kuno,” jelasnya.

“Oleh karena itu jangan ada lagi orang menangguh keris Nagasasra tangguh Majapahit, Padjajaran, Kediri ataupun Singosari. Sebab Keris Nagasasra dibuat era kewalian era Demak Bintara,” terangnya. (Jk)