Menerapkan Disiplin Protokol Kesehatan Ala Masyarakat Tiongkok

    


Simakrama Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru kerjasama Pemerintah Provinsi Bali bersama Kemenparekraf di Panggung Terbuka, Discovery Mall, Kuta, Badung, Bali, Jumat, 23 Oktober 2020 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Keberhasilan Tiongkok dalam mengurangi kasus baru covid-19 mendapat perhatian dari Pemprov Bali. Duta Besar RI untuk RRC Djauhari Oratmangun mengungkapkan, kasus positif di Negeri Tirai Bambu saat ini tercatat hanya 400 kasus, dari jumlah penduduk di negara itu sebanyak 1,46 milyar jiwa.

Bahkan, kata Djauhari, 14 Provinsi di Tiongkok telah dinyatakan zero covid-19. Ekonomi mulai bergerak dengan pertumbuhan positif.

“Tahun depan mungkin sudah positif dengan pertumbuhan bisa dobel dijit,” kata Djauhari di acara Talkshow Kepariwisataan dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru di Discovery Mall Kuta, Jumat, 23 Oktober 2020.

Fakta yang dikemukakan Djauhari Oratmangun mendapat perhatian dari Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. Dengan keberhasilan menekan peningkatan angka covid-19, Bali ingin meniru cara yang dilakukan Tiongkok.

“Dari 400 orang yang dinyatakan positif di seluruh Tiongkok, semuanya terjadi karena kasus imported case,” kata Djauhari.

Pemerintah China, kata Djauhari, memberlakukan aturan ketat soal sanksi hukum disiplin protokol kesehatan. Selain itu, masyarakat juga berperan aktif mencegah berulangnya transmisi lokal dengan menerapkan sanksi sosial.

Namun, sanksi yang dianggap berat oleh masyarakat setempat, menurut Djauhari, adalah sanksi sosial. Orang yang dinyatakan melanggar disiplin akan mendapatkan teguran sosial.

“Sanksi sosial itu yang dianggap berat, bisa-bisa satu kompleks akan memarahi mereka yang melanggar,” jelasnya.

Kedisiplinan itu berdampak pada keberhasilan Tiongkok menata kembali perekonomian negaranya. Pemerintah setempat mulai membuka pintu perbatasan antar provinsi. Terutama di sektor pariwisata, wisatawan domestik negara itu mulai melakukan perjalanan wisata dalam skala terbatas.

Djauhari mengatakan, ekonomi di China sudah cukup signifikan pergerakannya. hal tersebut karena pemerintahnya membuka pintu domestik walaupun masih dalam penentuan jumlah lalu lintas orangnya.

Ia berharap, ide-ide yang dilakukan oleh Negeri Panda dapat dipetik dan diterapkan. Indonesia menurutnya, bisa melakukan hal tersebut, dengan catatan tetap disiplin menerapkan cleanliness, health, safety, environment (CHSE). (Way)