Membedah Ideologi Terorisme dan Radikalisme Lewat ‘Ngopi Coi’

    


Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggandeng Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bali menggelar acara bertajuk 'Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia" atau yang disingkat 'Ngopi Coi', Selasa (3/11/2020) di Kuta Bali - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggandeng Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bali menggelar acara bertajuk ‘Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia” atau yang disingkat ‘Ngopi Coi’, Selasa (3/11/2020) di Kuta Bali.

Ngopi Coi melibatkan mahasiswa atau Pers Kampus dari perguruan tinggi di Bali, Babinsa dan Babinkamtibmas, YouTubers dan wartawan.

Acara tersebut dibagi dalam dua sesi. Pertama adalah talk show yang disiarkan secara langsung oleh RRI Denpasar serta Live streaming youtube RRI Denpasar di pandu hoast dari RRI Denpasar, Natalia Christina. Narasumber talkshow terdiri dari Ketua FKPT Bali I Gusti Agung Ngurah Sudarsana, Ketua Bidang Hukum, Humas dan Media FKPT Bali Emanuel Dewata Oja, Perwakilan BNPT yakni Ketua Bidang Penelitian Andi Udin Saransih, dan mantan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo.

Dalam pemaparannya, Andi Udin Saransih mengatakan, dengan melibatkan masyarakat secara luas sangat efektif dalam penanggulangan terorisme. Semakin banyak yang terlibat dalam pencegahan terorisme, akan semakin baik.

Ia juga menyampaikan beberapa konsep kearifan lokal yang secara filosofis sudah bisa digunakan untuk mencegah terorisme.

“Di Bali misalnya, ada konsep ‘menyama braya’. Ada solidaritas yang luar biasa antara satu dengan yang lainnya. Ini sangat bagus dalam menangkal terorisme,” kata Andi.

Ia meminta semua orang perlu mewaspadai gerakan terorisme di sekitar lingkunganya dengan caranya masing-masing. Mengingat, paham terorisme dan radikalisme itu tidak tampak.

Sementara Ketua Bidang Media, Humas dan Hukum FKPT Bali, Emanuel Dewata Oja alias Edo, dalam sesi talkshow menekankan, fungsi dasar FKPT yakni, menjalankan fungsi preemtif dan preventif.

Fungsi preemtif kata Edo, yang juga Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bali ini, adalah fungsi melakukan deteksi dini terhadap munculnya radikalisme dan terorisme dengan mengintensifkan dan memaksimalkan dialog-dialog nasionalisme dengan masyarakat dari segala lapisan.

Sedangkan fungsi preventif yang dijalankan FKPT Bali adalah melakukan kegiatan-kegiatan dengan melibatkan masyarakat untuk mendeteksi lebih dini munculnya radikalisme dan terorisme dalam masyarakat. Fungsi ini berbasis kearifan lokal yakni berbagai Kearifan lokal Bali yang secara turun temurun diwarisi masyarakat Bali.

Sesi yang dipandu Ketua Bidang Perempuan dan Anak, FKPT Bali, Dr I Gusti Ayu Putri Kartika ini mengundang respon antusias peserta.

Pada sesi kedua, Mantan Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo tampil membawakan literasi media. Ia mengatakan, media juga dapat menjadi sarana untuk menyebarkan paham radikalisme dan terorisme. Di Indonesia, hal ini sangat rentan dan masih sulit dikontrol.

Isu hoaks di medsos seringkali dipakai oleh media mainstream untuk dijadikan berita.

“Saat ini kita perlu waspada. Media online atau internet adalah alat propaganda ide radikalisme dan terorisme yang paling efektif. Dalam beberapa kasus, hal ini sudah terbukti. Fasilitas seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Line, Blogspot, YouTube adalah media sosial yang sering dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk penyebaran ide-ide radikal,” kata Yoseph.

Dalam konteks Indonesia, permasalahan itu harus menjadi perhatian khusus. Sebab, Indonesia adalah negara pengguna medsos terbesar di dunia. Facebook misalnya, Indonesia adalah pengguna terbesar nomor 3 di dunia. WhatsApp di Indonesia paling populer di dunia. Twitter, Indonesia pengguna terbesar dunia.

“Saya pernah mengirim naskah ke Australia pakai WA. Lalu saya diminta untuk mengirim ulang pakai email karena di Australia, orang tidak banyak menggunakan WA,” ujarnya.

Data sensus penduduk Januari 2020 menunjukan, jumlah penduduk Indonesia ada 272,1 juta jiwa. Sementara jumlah HP di Indonesia sebanyak 338,2 juta. Artinya, kata Yoseph, rata-rata perorang menggunakan lebih dari satu HP dan sudah pasti mereka menggunakan internet. Belum lagi di Indonesia saat ini ada 47.300 media.

“Itulah sebabnya kita perlu membedakan mana yang informasi dari Medsos, dan mana yang informasi dari media mainstream. Medsos tidak menggunakan cara kerja jurnalistik dan informasinya cenderung hoaks dari pada benarnya. Mari kita seleksi,” kata Yoseph. (*)