Melihat Proses Pembuatan Gula Semut oleh Siswa SMK N 1 Purworejo

    


Siswa SMK N 1 Purworejo melakukan proses pembuatan gula semut yang merupakan komoditi lokal dengan pangsa pasar masih terbuka luas - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Siswa-siswa kelas 3 SMK N 1 Purworejo, jurusan mesin dan las, menjalani pelatihan tentang tata cara memproduksi gula semut, Sabtu (19/11). Pelatihan yang berlangsung di ruang praktek tersebut, dibimbing oleh Maryono, dari UKM Perajin Gula Semut, desa Somongari.

Disampaikan oleh Maryono, bahwa untuk memproduksi gula semut secara maksimal, selain bahan baku, yakni gula merah asli berkwalitas bagus, juga didukung peralatan yang memadahi

Dalam satu kali proses produksi, diperlukan 3 tahapan. Ada 3 mesin produksi dalam satu paket, dengan fungsi masing-masing. Dalam pelatihan tersebut, para siswa mengoperasikan mesin hasil karya sendiri.

Tahap pertama, jelas Maryono, gula dimasukkan mixer. Disini, gula merah dicairkan dengan cara dimasak dan diaduk dengan mixer, hingga menjadi adonan mirip gulali.

Tahap kedua, adonan tadi dimasukkan ke mesin penggerus. Ada wajan besar yang memutar sebagai wadah. Disini, adonan mirip gulali tadi digerus sampai membentuk kristal yang dingin dan kering.

Dan tahap akhir, ada mesin pengayak. Disini, gula yang sudah mengkristal tadi diayak, atau disaring, untuk memisahkan kristalan lembut dengan yang masih kasar. Ada wadah untuk menampung kristal yang halus ini.

“Satu kali produksi hingga menjadi gula semut (kristal), diperlukan waktu hingga satu jam. Semua juga tergantung besar kecilnya api,” jelas Maryono di sela-sela pelatihan.

Dengan bahan baku gula merah 2,5 kg, terang Maryono, jika diolah menjadi gula semut bisa menghasilkan 2,2 kg. Harga perkilo gula semut di pasaran mencapai Rp 40 ribu (untuk aneka rasa), dan Rp 24 ribu untuk yang original.

Terpisah, Kepala SMK N 1 Purworejo, Budiyono, SPd, MPd mengatakan, tujuan dari pelatihan tersebut, selain untuk menguji atau mengoperasikan mesin hasil karya sendiri, juga untuk menumbuhkan jiwa berwirausaha.

Dipilihnya gula semut, karena komoditas yang satu ini merupakan potensi lokal, dan pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Untuk tahap pertama, kata Budiyono, pihaknya baru memproduksi 8 paket mesin produksi gula semut.

“Kedepan, akan ada kelompok wirausaha untuk menangani gula semut ini, yang kami ambil dari siswa,” pungkas Budiyono.
 
 
Jon