Megawati Sukarnoputri Lakukan Peletakan Batu Pertama Renovasi Pura Besakih

    


Pura Agung Besakih di Karangasem, Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pembangunan pelindungan kawasan suci Pura Agung Besakih dimulai melalui peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Presiden ke-5 RI Megawati Sukarnoputri, Rabu, 18 Agustus 2021.

Seremonial dilakukan secara hybrid di Pura Besakih, Karangasem, Bali dan di Jakarta.

Pelaksanaan dilaksanakan secara multi kontrak dengan diawali pembebasan lahan pada 2020. Kemudian, pembangunan tahap pertama ditargetkan berakhir pada tahun 2022.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, penataan kawasan Pura dan pembangunan sejumlah infrastrukur di Pura Besakih meliputi, ruang parahyangan, pawongan dan palemahan.

“Sejak lama kondisi kawasan suci Puri Agung Besakih kurang mendapat perhatian. Pembangunan parahyangan, pawongan dan palemahan akan dilaksanakan secara bertahap, karena tidak memungkinkan dilakukan dalam waktu bersamaan,” kata Koster di Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu, 18 Agustus 2021.

Koster menambah, tahap pertama pembangunan adalah ruang palemahan yang meliputi, bangunan parkir, tempat Pesandekan, fasilitas UMKM, Margi Agung atau akses jalan raya, graha wiyata, Pasraman, view point, jaringan air minum, listrik/telekomunikasi dan drainase.

Ditambah lagi, sarana transportasi, sirkulasi kendaraan, sarana pengelolaan sampah dan taman.

Pelindungan kawasan suci pura Agung Besakih butuh anggaran sebesar Rp 900 Milyar yang bersumber dari APBN Kementerian PUPR Rp 500 milyar dan APBD semesta berencana Provinsi Bali Rp 400 milyar.

Tahap kedua tahun 2021, sampai tahun 2022 dilakukan pembangunan fisik dengan anggaran Rp 730 milyar.

“Pembangunan diharapkan selesai tahun 2022, astungkara,” kata Koster.

Presiden Ke-5 RI Megawati Sukarno putri dalam pernyataannya secara jaringan mengatakan, renovasi kawasan suci Besakih menjadi upaya untuk mempertahankan kearifan lokal suatu daerah.

“Kearifan lokal itu sudah ribuan tahun, kehidupan yang kalian jalankan, jangan tergiur kehidupan orang luar, keindahan kita tidak dimiliki oleh mereka, keseniannya, budayanya, tata bahasanya luar biasa,” kata Megawati.

Semnetat, pura Besakih pada masa kerajaan Bali kuno dikategorikan sebagai kawasan hila hila hulundang ing basuki atau kawasan suci tempat memohon kesejahteraan hidup.

Sampai sekarang pura utama di Bali yang memiliki 117 unit pura itu, terlarang dan dipantangkan untuk dilalui atau dimasuki secara sembarangan oleh siapapun.

“Saya bertemu dengan Pak MenPuPera dan Pak Koster, ketika saya diminta untuk meletakkan batu pertama nanti. Itu sebuah hal yang sangat luar biasa, akan membangun kembali, bukan dibangun, sudah terbangun tapi, kita bilang mungkin renovasi kawasan suci Pura Agung Besakih,” kata Megawati Sukarnoputri. (Way)