Makian dan Kecaman Tak Akan Cegah Aksi Radikalisme, Doa Jawabannya

    


Doa lintas agama yang diinisiasi FKUB Kabupaten Badung, Bali, menyikapi aksi terorisme yang melanda tanah air dalam sepekan terakhir - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Doa yang dipanjatkan pasti lebih bermanfaat ketimbang ratap, kutuk maupun kecaman terhadap serangkaian aksi terorisme yang terjadi beberapa hari ini. Sejumlah pemuka agama di Bali pun mengambil peran itu untuk mendinginkan ketegangan yang muncul akibat gerakan radikalisme yang menewaskan orang-orang tak berdosa.

Forum kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Badung menginisiasi gerakan doa bersama lintas agama yang dihadiri oleh tokoh masyarakat dan pimpinan daerah, Rabu, 16 Mei 2018.

Para rohaniwan berkumpul di pelataran Puja Mandala, Nusa Dua. Mereka silih berganti melantunkan doa-doa untuk keselamatan bangsa dan negara.

Puja Mandala menjadi simbol kerukunan antar penganut keyakinan agama. Karena disitu berdiri lima tempat ibadah dalam satu lokasi yang saling berdampingan.

Ketua FKUB Kabupaten Badung, Kompyang R Swandika, gerakan doa bersama sebagai ungkapan simpati dan empati atas tragedi kemanusiaan serangan kelompok radikal yang terjadi dalam beberapa hari ini.

“Untuk keluarga korban agar diberikan ketabahan dan kekuatan lahir batin. Untuk masyarakat dan aparat penegak hukum tetap teguh dan bersatu membela NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dari acaman teror dan segala bentuknya,” ujar Kompyang, Rabu, 16 Mei 2018.

Di dalam doa, para pemuka agama ini berseru menolak kekerasan dalam bentuk apapun. Kompyang mengatakan, agama mengajarkan untuk selalu berbuat baik dan menyebarkan perdamaian serta cinta kasih.

Hadir pada kegiatan doa bersama itu, Wakil Bupati Badung, Kapolres Badung AKBP Yudith Satriya Hananta, Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo, Kepala Staf Kodam IX/Udayana Brigjen TNI Kasuri, Dandim 1611 Badung, Penglingsir Puri Agung Mengwi sekaligus Penasehat FKUB Badung A.A Gede Agung serta tokoh dan pemuka agama. (Way)