Mahasiswa STIKOM Bali Raih Juara Faforit Ciptakan Prototype Digitalisasi Koperasi

    


Dari kiri: I Komang Dharmendra (dosen pembimbing), I Made Suparsana, Dr. Dadang Hermawan (Ketua STIKOM Bali), Zinedine Zidane Bawazir dan Eksa Pramindanata - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Mahasiswa STIKOM Bali kembali mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Kali ini ditorehkan oleh tiga mahasiswa semester 1 yakni I Made Suparsana, Eksa Pramindanata dan Zinedine Zidane Bawazir.

Sebelumnya I Wayan Dharmana, Adithya Harun Tular dan I Made Suparsana yang tergabung dalam tim Colony Lab, Oktober 2017 menjadi juara dalam lomba aplikasi Asian Games 2018. Dalam event itu, Dharmana sebagai ketua tim mendapat hadiah mengunjungi kantor pusat Ericsson di Swedia.

Lalu pada bulan November 2017, giliran IGM Surya Dwipayana keluar sebagai juara Starting LINE Champion 2017 dan meraih hadiah mengunjungi kantor pusat LINE di Tokyo.

Tiga orang mahasiswa Semester 1 STIKOM Bali itu tergabung dalam tim Cup of Coffee. Ketiganya dinobatkan sebagai juara favorit dalam ajang Informatics and IT Festival Arkavidia 2018 yang digelar oleh HMIF Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 09-10 Februari 2018.

Made Suparsana sebagai juru bicara tim Cup of Coffee menjelaskan, dalam event ini ada empat kategori yang dilombakan, yakni Programming Competition, Technovation, Capture The Flag, dan Hackavidia. Tim Cup of Coffee STIKOM Bali mengikuti lomba kategori Hackavidia.

Disebutkan, lomba dimulai pada pertengahan Desember 2017. Para peserta dari seluruh Indonesia diminta mengirimkan proposal matari lomba secara online untuk diseleksi oleh pantia.

“Pada kategori Hackavidia terpilih 10 tim terbaik untuk diadu di babak final pada 9-10 Februari lalu,” kata Suparsana.

Eksa Pramindanata dan Zidane Bawazir menambahkan, pada babak final itu mereka bertiga harus menyelesaikan prototype digitalisasi koperasi dalam waktu 24 jam.

Sesuai proposal lomba, sebelumnya ketiga alumni SMKN 1 Denpasar ini sudah melakukan studi awal pada sebuah koperasi simpan pinjam si Dalung, Kuta Utara, milik mantan guru mereka di SMKN 1 Denpasar tadi.

Dari sinilah mereka membuat prototype digitalisasi koperasi. Mulai dari sistem administrasi simpanan, sistem administrasi kredit, sistem accounting, sistem pengelolaan aset, SDM dan lain-lain.

“Di babak final, semua sistem itu harus kami selesaikan dalam waktu 24 jam. Praktis kami tidak tidur, kami benar-benar begadang sampai pagi, tapi akhirnya bisa keluar sebgai juara favorit, padahal saingan kami adalah mahasiswa senior,” ucap Eksa dan dibenarkan Zidane dan Suparsana.

Bagi I Made Suparsana, inilah prestasi keduanya setelah sebelumnya juara aplikasi Asian Games 2018 bersama Dharmana dan Adithya tadi.

Atas prestasi itu, ketiga mahasiswa ini bersama dosen pembimbingnya Komang Dharmendara, S.Kom diundang Dr. Dadang Hermawan, Ketua STIKOM ke ruang kerjanya untuk bebincang-bincang dengan mereka.

Dadang berjanji akan mensosialisasikan karya ketiga mahasiswanya ini ke Dinas Koperasi dan UMKM Kota Denpasar agar menjadi model pengembangan koperasi di Denpasar.

“Ini sesuatu yang sangat dibutuhkan koperasi, saya akan komunikasikan dengan Dinas Koperasi dan UMKM Denpasar. Sudah saatnya koperasi di Denpasar berbasis IT,” kata Dadang Hermawan dengan nada bangga. (*)