Magnet Koster untuk NU dan Muhammadiyah

    


Foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Sosok I Wayan Koster sepertinya jadi magnet bagi dua spektrum besar umat Islam di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Biasanya, kedua organisasi tersebut berjalan dengan pakemnya masing-masing.

Namun, dengan pencalonan Wayan Koster sebagai Cagub Bali, kedua organisasi besar itu bisa dipersatukan. Hal itu terungkap dalam pertemuan tokoh lintas agama dan etnis yang digelar di Desa Budaya Kertalangu, Denpasar.

Pada pertemuan yang dihadiri sekitar 700 orang komponen lintas agama dan etnis itu, Koster ingin Bali menjadi etalase bagi kerukunan umat beragama.

“Bali ini terdiri dari berbagai komponen masyarakat baik dari sisi agama maupun asal golongannya. Karena itu, kehidupan masyarakat Bali harus dibangun dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945,” ujar Koster di Desa Budaya Kertalangu Denpasar, Sabtu 5 Mei 2018.

Ia ingin nilai-nilai Pancasila yang merupakan ajaran Bung Karno diterapkan dengam baik di Bali, khususnya di Kota Denpasar.

“Bali harus dijadikan percontohan membumikan nilai-nilai Pancasila agar semua masyarakat di Bali merasakan pengayoman penuh oleh pemimpin Bali kelak, kemudian difasilitasi melalui kebijakan yang harus peduli dan berpihak kepada kelompok masyarakat di Bali, apalagi di Denpasar yang sangat heterogen,” tegas Koster.

Ketua PWNU Bali, Abdul Aziz sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Wayan Koster. Menurutnya, kerukunan di Bali mesti dijaga agar pembangunan Bali tak terganggu apapun.

“Kerukunan adalah sebuah hal yang sangat baik untuk memelihara keberagaman di Bali. Itu sudah dibuktikan oleh Pak Koster jauh haris sebelum pertemuan ini dilaksanakan,” papar dia.

Menurutnya, seluruh komponen masyarakat Bali lintas agama dan etnis harus bersatu membangun Bali ke depan.

“Sehingga Bali bisa menjadi tolok ukur bagi pembangunan Bali yang seiring sejalan dengan keberagaman dan toleransi yang terajut dengan baik,” ujarnya.

“Kita harus menyatukan visi membangun Bali ke depan. Memelihara dan membangun Bali secara utuh, ini harapan besar kami. Kami harap ini bisa diwujudkan sehingga Bali ini menjadi tolok ukur di tingkat nasional bahkan global bagaimana toleransi itu berjalan dengan baik. Saya yakin Pak Koster mampu mewujudkan hal itu,” katanya.

Sementara Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammdiyah Provinsi Bali, Muslim AR mengaku antara pandangan organisasi dan kebijakan Koster yang akan diterapkan ketika terpilih sebagai Gubernur Bali memang memiliki keselarasan.

“Kami bertekad memenangkan beliau. Kami punya Muhammadiyah Forum yang selalu menghadirkan beliau. Di sana beliau memaparkan program kerjanya yang memang senafas dengan arah organisasi kami,” katanya. (*)