Lolos dari Laporan Polisi Gara-gara Status WA, Kaur Desa Surono Tetap Terancam Dipecat, Ini Jawabannya

    


Camat Grabag, Amat Jainudin - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Penyebab Surono (49), Kaur Perencanaan Desa Tulusrejo, Kecamatan Grabag, Purworejo, yang terancam diberhentikan dari jabatannya sebagai perangkat desa gara-gara tulisan statusnya di WA, kini terjawab.

Meski Surono bersikukuh tidak merasa bersalah, karena tidak melanggar UU ITE sesuai laporan warga ke polisi, namun pihak pemerintah desa memiliki dasar dengan ancaman pemberhentian tersebut.

Hal itu, ditegaskan Camat Grabag, Amat Jainudin. Menurutnya, ancaman pemberhentian Surono, yang diawali dengan keluarnya surat teguran (peringatan) yang ditanda tangani Pj Kades Tulusrejo, Mujiana, tertanggal 4 Februari 2019 itu, sudah memenuhi prosedur, dan sesuai aturan.

“Dasarnya Perda No 6 tahun 2016, tentang tata cara pencalonan, pengangkatan, pelantikan dan pemberhentian perangkat desa. Dia telah melanggar pasal 26. Karena pelanggarannya itu, dia dikenakan pasal 28. Dalam perda tidak diatur tentang keterlibatan BPD dalam hal ini,” ungkap Amat Jainudin, Jum’at (8/2/2019).

Hal yang dilanggar Surono dalam pasal 26 tersebut, jelas Amat Jainudin, diantaranya, merugikan kepentingan umum, melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat desa, melanggar sumpah/janji jabatan, serta melakukan provokasi terhadap masyarakat untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan. Apa yang dilakukan Surono dengan membuat status di WA nya, ‘Hati nurani warga desaku telah terjual dengan selembar uang 20.000. Heeem murah yaa’, sudah memenuhi unsur itu.

Jika tidak ada perkembangan yang baik, kata Amat Jainudin, sangat mungkin akan dikeluarkan SP2, SP 3, hingga pemberhentian sementara. Jeda waktu antara SP 1, SP 2, SP 3, sepuluh hari. Untuk waktu pemberhentian sementara, jangka waktunya 3 bulan, dan selama itu dievaluasi. Hasil evaluasi, bisa direhabilitasi (kembali ke jabatan semula), atau diberhentikan tetap. Dan kewenangan Pj, hanya pada pengeluaran surat teguran dan pemberhentian sementara.

“Saat didemo warga dan didesak untuk mengundurkan diri, Surono tidak mau. Dia juga sudah meminta maaf sama kades terpilih, tapi terkesan, permintaan maafnya itu tidak tulus, karena dia masih berargumen,” terang Amat Jainudin.

Desakan masyarakat supaya Surono diberhentikan dari jabatannya sebagai perangkat desa, kata Amat Jainudin, sangat kuat. Dengan dasar perda itulah, pihak desa akhirnya melakukan tindakan dengan mengeluarkan surat teguran. (Jon)