Legowo Terima Kekalahan, Cakades Ini Kritisi Panitia

    


Kedua cakades Desa Soko, Bagelen, Mulyono dan Ruswandi, saat pengundian nomor dan tanda gambar - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pilkades serentak yang diikuti 843 calon kepala desa dari 343 desa di 16 kecamatan se Kabupaten Purworejo, Kamis (31/1/2019) lalu, menyisakan catatan tersendiri, terutama bagi cakades yang kalah dalam persaingan.

Seperti yang dialami Ruswandi, salah satu cakades dari Desa Soko, Bagelen, yang harus menerima kekalahan dari lawannya, Mulyono. Ruswandi, dengan tanda gambar ketela, no urut dua ini, memperoleh 353 suara. Selisih 30 suara dari Mulyono, calon no satu dengan tanda gambar padi, yang memperoleh 383 suara.

Dari jumlah DPT 1300, yang hadir dalam pemilihan 1028. Dari jumlah suara yang masuk, 292 suara dinyatakan rusak. Banyaknya suara yang rusak, menjadi pertanyaan tersendiri bagi masyarakat, khususnya Ruswandi, karena mayoritas suara itu pendukungnya.

“Secara legowo, saya menerima kekalahan ini. Namun ada beberapa catatan bagi panitia, yang secara teknis terkesan kurang profesional dan terindikasi tidak independen,” ujar Ruswandi, Minggu (3/2).

Ruswandi mencontohkan, lipatan kertas suara yang membingungkan dan tak wajar, membuat banyak kartu suara yang rusak. Umumnya, lipatan kertas suara itu ke dalam, dengan posisi gambar berada di bagian dalam, sehingga untuk bisa melihat gambar, harus dibuka semua.

Tapi yang terjadi, kertas suara dilipat keluar, sehingga ketika lipatan dibuka sebagian, tanda gambar sudah terlihat. Dan saat dicoblos, jika tidak hati-hati akan tembus ke lipatan lainnya. Ini menjadikan kertas suara tidak syah. Menurut Ruswandi, panitia kurang sosialisasi dalam hal ini.

“Ada indikasi juga, panitia tidak netral, dengan ikut memasang gambar salah satu calon, dan ajakan untuk memilih salah satu calon, saat membagikan undangan. Hal itu bisa dikroscek,” terang Ruswandi.

Pihak panitia, jelas Ruswandi, juga kurang koordinasi dan transparan. Hal itu terlihat pada pembuatan panggung untuk pemilihan di balai desa, yang menghadap ke utara. Padahal selama ini, setiap kali ada Pilkades, panggung selalu menghadap ke barat (jalan). Terkesan, hal itu merupakan ‘pesanan’.

Menurut Ruswandi, apa yang dia ungkapkan itu, sebagai pembelajaran untuk panitia, dan kedepannya bisa lebih profesional dan berkualitas, serta bersikap netral. Karena hal itu, menyangkut hak pilih orang banyak. (Jon)