Langkah Kemenparekraf Bangkitkan Ekonomi Pariwisata

    


Penerapan CHSE di obyek wisata budaya dan sejarah di Puri Kerambitan, Tabanan, Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pasca masa tanggap darurat covid-19, pemerintah berupaya meningkatkan daya saing untuk kembali pada ekonomi normal. Paradigma tentang pandemi perlu dirubah.

Direktur Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf/Badan Pariwisata dan Ekraf, K. Candra Negara mengatakan, pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak. Ada 13 juta jiwa yang bergantung hidup secara langsung dari sektor wisata.

Sedangkan sektor pendukung pariwisata yang ikut terdampak mencapai angka 29 juta jiwa.

“Ide pariwisata mengandalkan pergerakan orang, ketika pandemi semuanya sepi,” kata Candra Negara dalam webinar ‘Road to Bali Democracy Forum XIII’ di Bali, Kamis, 5 November 2020.

Untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan, Kemenparekraf merubah strategi dari quantity tourism yang mengandalkan jumlah, menjadi quality tourism yang berorientasi pada average spending per arrival (ASPA).

“Kualitatif tourism juga merujuk spending, dari awalnya US$ 1300 bisa ditingkatkan US$ 3000 per kunjungan. Namun, pas strategi dirumuskan terjadi pandemi,” kata Candra.

Untuk mencapai hal itu di masa normal baru, Kemenparekraf menyusun protokol kesehatan yang sekarang dikenal dengan cleanliness, healthy, safety and environment (CHSE).

Candra menambahkan, sekarang mulai muncul paradigma baru dari para pelancong. Mereka akan mencari destinasi wisata yang siap dengan protokol kesehatan. Kemenparekraf mensosialisasikan dalam skala masif CHSE di seluruh destinasi wisata nusantara seperti, Bali, Yogya maupun Sulawesi.

“Jadi Ketika turis masuk, sudah nyaman dengan penyelenggaraan protokol secara ketat, ini membuat orang percaya diri dan terbangun trust,” kata Candra. (Way)