LaCasa diPasta Ide Baru Kuliner Pasta Buatan UMKM asal Bali

    


Indri Heselschwerdt dengan brand pasta LaCasa diPasta - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – LaCasa diPasta, UMKM yang mengusung brand pasta ini berani tampil beda dengan kreasi kuliner asal Italia itu. Namun, menurut pemilik usaha Indri Heselschwerdt kreasi produk yang dihasilkan tetap mengedepankan kualitas dan cita rasa unik.

Kandungan yang disajikan dipadukan dengan sayur-sayuran dan buah. Dalam kemasan pasta kering misalnya, menampilkan ingredient berupa bahan baku yang dicampurkan dalam olahan pasta LaCasa diPasta.

“Bahan pasta pilihan dari tepung impor yang khusus untuk pasta. Pewarnaan dengan menggunakan bahan organik dari sayur sayuran dan buah,” kata Indri ditemui di Kuta, Kamis (18/11/2021).

Ada tiga jenis pasta yang siap order yakni, fresh pasta ukuran 130 gram atau per porsi yang dibandrol Rp 38 ribu. Pasta kering ukuran 200 gram seharga Rp 40 ribu dan pasta beku yang terdiri dari beberapa ukuran.

Indri memastikan, pasta buatannya memiliki kandungan gizi cukup lengkap dengan pewarnaan organik dari sayur-sayuran dan buah.

“Beda pasta saya dengan pasta pabrikan yang dijual di super market, tapi pasta yang tetap gampang dimasak di rumah,” ujar pemilik usaha yang berlokasi di KSquare Building 2nd floor Jalan Raya Kerobokan, Badung.

Ia mengungkap, ide membuat pasta hand made itu ingin menjadikan masakan khas italia tersebut menasional dan menjadi image makanan sehat. Karena menurutnya, selama ini pasta dianggap sebagai junk food.

“Karena image orang kita banyak makan pasta itu gendut, saya ingin merubah itu,” ujarnya.

Bisnis pasta itu secara resmi diluncurkan sejak 9 Oktober 2021. Selama ini, marketnya menyasar pada segmen umum untuk para penghobi masak. Selain itu, ia juga melayani pemesanan atau pre order untuk pasta-pasta jenis tertentu.

Yang perlu diketahui, kata Indri, pasta olahannya dibuat dari bahan tepung impor untuk menjaga kualitasnya.

“Saya sudah mencoba sendiri menggunakan tepung biasa, itu jadinya bukan pasta, jadinya mie. Karena tekstur pasta beda dengan mie, kekenyalannya maupun kelenturannya,” kata Indri.

Sementara, Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kabupaten Badung I Made Widiana S.Sos., M.Si. menambahkan, UMKM harus memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan kompetitor. UMKM harus mengetahui keinginan konsumen sehingga bisa menghadirkan produk yang diinginkan oleh para pembelinya.

“Penting melakukan inovasi demi mendapatkan produk terbaik. Ciptakan hubungan baik dengan konsumen, melayani dengan profesional. Dengan begitu konsumen akan merasa istimewa dan itu jadi nilai tambah dari produk yang diberikan,” kata Widiana. (Way)