Kuasa Hukum Jelaskan Kasus Pemukulan yang Menjerat Sanny Suharli

    


Foto: Ilustrasi

KORANJURI.COM – Tersangka Kasus Pemukulan Kon Siw Lie, Sanny Suharli yang kini jadi terdakwa di PN Jakarta Barat, memberikan pernyataan melalui rilis tertulis pada Selasa, 3 September 2019, terkait kasus yang menjeratnya. Rilis itu dikirimkan melalui kuasa hukumnya, Hendrik Hali, SH.

Dalam keterangan tertulis itu, kata Hendrik Hali, kliennya menilai, pemberitaannya tidak berimbang berdasarkan fakta dan kebenaran.

“Bahwa sangat aneh, berita Sanny Suharli juga yang sudah kakek tua umur 69 tahun, sangat tidak masuk akal sehat memukul nenek tua yang bernama Kon Siw Lie 64 tahun, dan dimuat sangat gencar di koran online,” kata Hendrik Hali melalui keterangan tertulis, Selasa, 3 September 2019.

Menurut Hendrik, tidak ada alasan kliennya yang menunjukkan adanya niat dan sengaja memukul, seperti syarat pasal yang dituduhkan yakni pasal pidana 351, yang harus ada niat dan kesengajaan.

Pengacara Sanny Suharli merilis wajah korban Kon Siw Lie tidak tampak ada luka maupun memar dan tidak biru lebam, beberapa menit setelah kejadian - foto: Istimewa

Pengacara Sanny Suharli merilis wajah korban Kon Siw Lie tidak tampak ada luka maupun memar dan tidak biru lebam, beberapa menit setelah kejadian – foto: Istimewa

Menurutnya sangat tidak mungkin, kliennya melakukan pemukulan terhadap Kon Siw Lie yang notabene adalah teman baik. Hendrik melanjutkan, mereka bertetangga sejak 1993 tanpa permusuhan sama sekali.

Dimuka majelis hakim PN Jakarta Barat, Hendrik Hali menjelaskan, Kon Siw Lie mengakui bahwa Sanny Suharli mau menjatuhkan HP yang dipakai Akuang, anaknya, untuk merekam Sanny Suharli sambil mengejek. Jadi, tambah Hendrik, Kon Siw Lie di depan majelis hakim jelas-jelas menyatakan bukan memukul Kon Siw Lie.

“Perekaman oleh Akuang tersebut menurut banyak ahli Hukum adalah pelanggaran undang-undang ITE. Dalam rekaman video, bahwa Akuang diminta oleh Kon Sie Lie meminta maaf kepada Sanny Suharli. Itu dibuktikan dalam rekaman video dan suara,” jelas Hendrik.

“Akuang Hartawan Halim adalah anak kandung Kon Siw Lie yang menjadi saksi ibu kandungnya di pengadilan, disitu ada pelanggaran pasal 168 KUHP, dimana keturunan sedarah dinyatakan tidak boleh menjadi saksi,” tambah Hendrik.

Hendrik menjelaskan, kliennya Sanny Suharli mengungkap kejanggalan proses laporan tindak pidana pemukulan oleh dirinya kepada korban Kon Siw Lie,
yang baru dilaporkan pada tanggal 7 Juni 2018.

Setelah itu, baru dilakukan visum di RS Sumber Waras. Padahal kejadian tersebut berlangsung pada tangal 3 Juni 2018. Jadi, kata Hendrik, 4 Hari kemudian baru dilaporkan dan baru divisumkan.

“Menurut dokter senior yang ahli forensik RS Polri Kramat Jati, apabila Kon Siw Lie benar-benar kesakitan mana mungkin baru minta dilakukan visum tanggal 7 Juni 2018 dan pasti Kon Siw Lie akan langsung ke rumah sakit tanggal 3 Juni 2018,” ujar Hendrik.

Hendrik menambahkan, dalam persidangan sebelumnya, dokter Lili H. Pangulu yang membuat keterangan visum yang menyatakan bahwa pasien tidak mengeluh sakit apapun.

“Pasien tidak mengeluh apapun menurut keterangan dokter Lili di depan majelis Hakim PN Jakarta Barat,” tambah Hendrik. (Bob)