Kotawaringin Timur Dijadikan Sentra Ikan Patin Nasional

    


Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Propinsi Kalimantan Tengah dinilai layak menjadi sentra ikan Patin Nasional - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Propinsi Kalimantan Tengah dinilai layak menjadi sentra ikan Patin Nasional. Selain memiliki potensi besar, kabupaten ini juga telah menerapkan budidaya ikan berbasis kawasan, sebagai wujud budidaya yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, Desa ini ditetapkan sebagai salah satu kawasan pengembangan ikan Patin. Disitu terdapat lebih dari 220 kolam. 45 kolam diantaranya sudah siap dipanen, setidaknya sebanyak 40 ton.

Tiap kolam berukuran rata-rata 20×10 m dengan diisi sebanyak 2500 ekor benih patin. Setelah pemeliharaan selama 5-6 bulan, pembudidaya dapat panen 700 kg – 1 ton patin tiap kolam. Dengan biaya produksi per kg Rp 18-19 ribu dan harga jual Rp 23-25 ribu.

“Setidaknya pembudidaya mampu meraup keuntungan Rp 4-7 ribu per kg atau hingga dapat mencapai Rp 3-7 juta per kolamnya,” jelas Slamet.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan dalam negeri, Slamet menjelaskan, pihaknya akan terus mendorong pengembangan usaha budidaya melalui klasterisasi kawasan berbasis komoditas unggulan daerah.

Menurutnya, strategi ini sangat ampuh untuk percepatan pengembangan kawasan, karena pada prinsipnya setiap komoditas yang dikembangkan memiliki karakteristik yang khas sesuai kondisi lokasi.

“Kami apresiasi pengembangan perikanan budidaya khususnya di Kabupaten Kotim ini karena telah menerapkan kawasan budidaya berbasis komoditas. Kebijakan ini tentu sesuai dengan yang telah digariskan KKP”, kata Slamet saat memberikan sambutannya.

“konsumsi ikan per kapita kita terus naik, jika sebelumnya sebanyak 40 kg per kapita di tahun 2017 maka pada tahun 2019 ditarget sebanyak 53 kg,” ujarnya.

Sementara, Wakil Bupati Kotim M. Taufiq Mukri mengatakan komoditas utama yang dikembangkan di Kotim yaitu Patin, Nila dan Jelawat untuk komoditas air tawar.

Sedangkan komoditas air payau yaitu udang dan ikan Bandeng. Masing-masing komoditas telah ditetapkan kawasan pengembangannya.

“Pertama kami tata kawasannya, ada yang khusus patin, nila dan tambak udang. Kedua pengembangan dan pelestarian ikan Jelawat yang menjadi ikon Kota Sampit dan ketiga pengembangan ikan introduksi dengan pola budidaya kolam maupun sistem bioflok,” ujarnya. (Bob)