Koster Tak Ingin Cara Kotor di Pilgub Bali

    


Koster saat mengikuti rapat Tim Hukum Koster-Ace di Kantor DPD PDI Perjuangan - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Calon Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster mengaku banyak serangan yang diarahkan kepadanya selama keikutsertaannya pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali.

Hal itu disampaikan Koster disela rapat Tim Hukum Koster-Ace di Kantor DPD PDI Perjuangan. Menurutnya, informasi di media sosial dan beberapa media konvensional bergerak liar menjurus pada kabar bohong alias hoaks yang membunuh karakternya. 

Hanya saja, sejauh ini ia tetap sabar menghadapi serangan membabi-buta yang diarahkan kepadanya. Sebab, ia tak ingin kemenangan diraih dengan cara-cara kotor.

“Saya sudah terlalu lama sabar. Saya inginnya meraih kemenangan dengan santun,” kata Koster, Jumat 13 April 2018.

Meski terus mendapat serangan, Koster tak pernah membalasnya. Ia melarang kepada kadernya untuk membalas serangan tersebut. Ia ingin Pilgub Bali berjalan aman, damai, santun, beretika dan bermartabat.

“Saya selama ini tak mau melakukan serangan balik. Saya lebih menekankan kepada pemaparan program apa yang akan saya lakukan lima tahun ke depan,” ujarnya.

Hanya saja, belakangan ini ia menilai serangan yang diarahkan kepadanya mulai kebablasan. Untuk itu, ia meminta kepada tim hukum agar mengingatkan kepada mereka yang melakukan serangan tanpa fakta dan bukti otentik yang menjurus hoaks dan pembunuhan karakter.

Kendati begitu, ia menekankan peringatan itu tidak ditujukan untuk menyerang balik, apalagi bertindak konfrontasi. Sebaliknya, peringatan yang diberikan untuk megontrol agar semua pihak tetap pada rel perebutan kursi bergengsi di Bali ini dilakukan secara bermartabat, beretika, santun dan mengedepankan program kerja yang akan dijalankannya untuk rakyat Bali lima tahun ke depan. 

“Karena saya ingin tampilkan soft pilkada ini. Kalau yakin menang dengan cara yang cerdas, elegan, ngapain kita menyerang. Tapi kalau sudah keterlaluan, tolong dihadapi agar tak kebablasan juga. Tujuannya untuk mengingatkan saja, bukan untuk konfrontasi,” ingat dia. (*)