Koster: Musium Purbakala Gilimanuk Bakal Masuk Paket Wisata di Bali

    


Calon Gubernur nomor urut 1, Wayan Koster, mengunjungi Museum Purbakala Gilimanuk di Kabupaten Jembrana yang merupakan salah satu mata rantai penting perjalanan sejarah peradaban Pulau Bali, Rabu, 21 Maret 2018 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Calon Gubernur nomor urut 1, Wayan Koster, mengunjungi Museum Purbakala Gilimanuk di Kabupaten Jembrana yang merupakan salah satu mata rantai penting perjalanan sejarah peradaban Pulau Bali, Rabu, 21 Maret 2018.

Didampingi Tim Ketua Pemenangan Koster-Ace Made Kembang Hartawan, Koster mendapatkan sejumlah penjelasan dari petugas tentang keberadaan museum yang berdiri di kawasan seluas sekitar 20 hektar tersebut.

Di lokasi tersebut banyak ditemukan fosil manusia purba serta sejumlah benda-benda bekal kubur manusia purba Gilimanuk seperti gerabah atau periuk serta perhiasan-perhiasan lainnya.

Pada Januari 2016, Tim Arkeologi kembali menemukan kerangka manusia purba yang diperkirakan berasal dari 257 tahun sebelum masehi (SM). Keberadaan kerangka manusia purba Gilimanuk ditemukan dalam kegiatan ekskavasi atau penggalian pada ke dalaman 1,5 meter dengan luas 2×2 meter.

“Sebetulnya situs ini pertama kali ditemukan pada tahun 1963 oleh Prof. Dr. R.P. Soejono. Ketika itu ditemukan kerangka dalam tempayan serta berbagai manik-manik, gerabah, serta barang-barang perunggu yang merupakan sisa kegiatan masyarakat pada masa prasejarah Indonesia sekitar 2000 tahun yang lalu, menjelang masa Hindu-Buddha,” jelasnya.

Sayangnya, museum yang dibangun pada tahun 1994 ini masih sangat sepi dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Padahal, tempat itu menyimpan berbagai kisah unik yang terkait dengan asal muasal nenek moyang penduduk Bali pada zaman sebelum sebelum masehi.

“Ramainya ketika musim libur sekolah, dikunjungi oleh anak-anak tour sekolah. Ada juga peneliti dari luar negeri, paling sering dari Jerman dan Denmark,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, Koster mengatakan keberadaan museum Purbakala Gilimanuk harus dilestarikan.

“Penemuan kerangka manusia dan sejumlah benda-benda purbakala yang tersimpan di museum ini menjadi bukti sudah ada peradaban di Bali ratusan tahun sebelum masehi. Museum ini harus dipertahankan dan dilestarikan,” jelas Koster.

Diakuinya, minat masyarakat secara umum berkunjung ke museum relatif menurun. Untuk itulah, kedepan keberadaan museum-museum di Bali harus menjadi bagian paket wisata yang harus disosialisasikan atau dipromosikan kepada wisatawan.

“Karena dengan berkunjung ke museum, selain berwisata, juga banyak ilmu yang akan diperoleh,” pungkasnya. (*)