Kontens Radikalisme Vs Kontens Deradikalisasi

    


Kegiatan bincang santai dengan topik Pendidikan Tinggi, IT dan Melawan Paham Radikalisme di Kampus STIKOM Bali, Sabtu, 26 Mei 2018 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Sebelum dieksekusi oleh pengikut paham radikalisme, penyebaran informasinya tak lepas dari peran media. Terutama di media sosial, informasi maupun ajakan paham radikal itu cukup sering ditemui dan dibagikan oleh pemilik akun tertentu.

Hal itu, menurut pemerhati budaya I Wayan Juniartha, organisasi radikal menganggap penting peranan media. Dalam konteks kekinian, media yang digunakan bukan hanya media mainstream, tapi juga media online yang kontennya sengaja diciptakan untuk tujuan penyebaran paham radikal.

“Al Qaeda dari tahun 2010 sudah punya majalah online, namanya inspire dan ini ternyata yang menginspirasi beberapa serangan teroris,” jelas Juniartha dalam kegiatan bincang santai dengan topik Pendidikan Tinggi, IT dan Melawan Paham Radikalisme di Kampus STIKOM Bali, Sabtu, 26 Mei 2018.

Terkait infomasi radikalisme, Juniartha berpendapat, peran lembaga pendidikan tinggi berbasis IT sangat diperlukan untuk menangkis penyebarluasan informasi radikalisme.

Upaya membendung informasi paham radikal tidak cukup dilakukan dengan pemblokiran situs atau akun-akun yang ada. Ia mencontohkan, ada kasus sebuah akun ‘kekerasan’ di tweeter yang akhirnya diblokir.

Namun di saat yang sama, pemilik akun dengan mudah membuat akun baru yang jumlah pengikut bisa sangat besar dalam waktu singkat.

“Contohnya, Akun Al Nusra Front yang ditutup oleh tweeter, mereka langsung bikin akun baru dan dalam 1×24 jam, followernya sudah 20 ribu,” ujar Juniartha.

Seperti menjadi sia-sia, tambah Juniartha, jika dilakukan pemblokiran terhadap akun-akun penganut paham radikal. Yang perlu dilakukan menurutnya, adalah dengan memerangi kontens radikal dengan kontens deradikalisasi yang juga menggunakan media.

“Disitu ada perang narasi sehingga publik paham. Pemerintah bisa menggandeng lembaga tinggi IT yang punya kemampuan untuk melakukan counter terhadap penyebaran radikalisme,” ujarnya demikian

Dialog santai yang diinisiasi STIKOM Bali itu dihadiri oleh Ketua STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan, Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti, Prof. Dr. I Made Bandem dengan moderator I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem, B.Bus. (Way)