Kongres Taman Siswa Meneguhkan Restorasi Taman Siswa Emas

    

Kongres Taman Siswa Meneguhkan Restorasi Taman Siswa Emas

 

Ilustrasi

Ilustrasi

Kongres Majelis Luhur Taman Siswa (MLTS) dan Persatuan Keluarga Besar Tamas Siswa (PKBTS) yang diadakan pada tanggal 5-8 Desember 2016 telah berakhir. Ki Prof. Dr. Sri Edi Swasono terpilih sebagai Ketua Umum MLTS, sedangkan Prof. Dr. Cahyono Agus terpilih Menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat PKBTS untuk periode 2016-2021.

Penutupan kongres di Pendopo Taman Siswa dimeriahkan pertunjukan tarian dolanan anak-anak khas Taman Siswa dan tarian Bali oleh anak-anak tuna rungu. Sebelumnya malam pentas budaya di Desa Kebangsaan Pesan Trend Imogiri dimeriahkan fragmen Nyutro Budoyo, kesenian Jatilan Turonggo Budoyo, Gejog Lesung, Rampak Buto TMB, Karawitan, Etnomusik ISI Solo, Wayang Milenium, diakhiri dengan kolaborasi kebangsaan oleh pengisi acara dan pejabat yang hadir.

Nilai-nilai kebudayaan sebagai dasar pendidikan dan pembangunan sangat kental mewarnai kongres Taman Siswa kali ini. Kongres Taman Siswa memformulasikan arah kebangkitan Taman Siswa baru pada saat ulang tahun emas 100 tahun Taman Siswa pada tahun 2022 mendatang. Selanjutnya, Renaisans Taman Siswa emas diharapkan mampu memberi kontribusi nyata dalam pendidikan bagi generasi emas pada saat perayaan ulang tahun emas 100 tahun Kemerdekaan Indonesia.

Revitalisasi Taman Siswa sudah bersifat mutlak sehingga ajaran Ki Hajar Dewantara (KHD) yang dipercaya sebagai terapi terbaik untuk pendidikan karakter bangsa Indonesia bisa diwujudkan sehingga mampu menjadi kebanggaan. Contoh, acuan dan agent of change untuk peningkatan kualitas pendidikan unggulan bagi semua pihak. Sistem among, momong dan ngemong bukan hanya diomongkan saja namun harus diamalkan dan mampu memperbaiki kondisi internal dan bangsa ini.

Pembaharuan Taman Siswa dimulai dengan melakukan revitalisasi mandat, visi, misi dan tujuannya agar mampu lebih efektif berperan aktif dalam pembangunan sistem pendidikan nasional yang berbasis, kebudayaan, kemanusiaan.

Gap antara situasi Taman Siswa terkini dan cita-cita besar berdasar mandat, visi, misinya harus dijadikan dasar pengembangan program dengan design dan mekanisme yang terstruktur dan terpadu. Dengan demikian dapat dicarikan solusi alternatif untuk menjadikan Taman Siswa unggul kembali dan menjadi cucuk lampah pengembangan pendidikan dan kebudayaan Indonesia kembali.

Pemberdayaan Taman Siswa yang meliputi kultur organisasi Taman Siswa, pelaksanaan ajaran KHD, sumber daya (manusia, finansial, fisik, informasi, lembaga, unit kerja, pengurus cabang & pusat, kerjasama dsb), proses dan pelayanan, serta output dan outcome. Faktor lingkungan eksternal (lokal, nasional, regional, internasional global) juga harus dilakukan analisis mendalam, meliputi trend-kecenderungan (idiologi, politik, budaya, ilmu pengetahuan, sistem pendidikan dsb), pemangku kepentingan (pemerintah, murid & mahasiswa, konsumen dsb) maupun pasar (industri, masyarakat, pemerintah, pebisnis dsbSinergisme pemberdayaan generasi muda dan tua, internal dan eksternal seluruh multipihak menjadikan Taman Siswa lebih mudah untuk melakukan pembaharuan yang bermakna bagi semua pihak.

Keberhasilan program renaisans/revitalisasi/pembaharuan Taman Siswa jelas membutuhkan kontribusi aktif dan nyata dari seluruh pemangku kepentingan.

Keberhasilan penerapan sistem ajaran KHD di Taman Siswa sendiri selanjutnya agar mampu diperluas dalam program nasional yang lebih besar, memerlukan kesiapan dan penyempurnaan berjenjang secara vertikal dan horizontal, dengan mempertimbangkan local wisdom.

Informasi Penulis:
Prof. Dr. Cahyono Agus
Guru Besar UGM Yogyakarta dan Ketua Umum PKBTS (Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa)



    





News

BERITA PILIHAN

    

Kembali ke Atas